JurnalPatroliNews – Jakarta – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai meremehkan kontribusi pasukan NATO dalam perang Afghanistan menuai reaksi keras di Inggris. Sejumlah tokoh menilai komentar tersebut mengabaikan pengorbanan besar tentara sekutu, termasuk Inggris, yang terlibat langsung dalam konflik panjang tersebut.
Salah satu kritik paling tegas datang dari Pangeran Harry, anggota keluarga Kerajaan Inggris yang memiliki pengalaman langsung bertugas di Afghanistan. Harry menegaskan bahwa peran dan pengorbanan prajurit NATO seharusnya dibahas secara jujur dan penuh penghormatan.
Ia mengingatkan kembali momen penting pada 2001, ketika NATO untuk pertama kalinya mengaktifkan Pasal 5, mekanisme pertahanan kolektif yang menyatukan seluruh negara anggota untuk mendukung Amerika Serikat pascaserangan 11 September.
“Sekutu tidak tinggal diam. Mereka menjawab panggilan itu,” ujar Harry, dikutip dari BBC, Sabtu (24/1/2026).
Berbicara dari pengalaman pribadinya, Harry mengungkapkan bahwa penugasannya di Afghanistan meninggalkan jejak emosional yang mendalam.
“Saya pernah berada di sana. Saya membangun persahabatan seumur hidup dan saya juga kehilangan teman-teman,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa Inggris kehilangan 457 personel militer selama konflik Afghanistan, sementara ribuan lainnya mengalami dampak jangka panjang. Menurutnya, pengorbanan tersebut tidak pantas diremehkan dan harus dikenang dengan rasa hormat.
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Fox News pada Kamis malam menyebut bahwa pasukan NATO “tidak berada di garis depan” selama perang Afghanistan. Ia juga kembali menyampaikan pandangannya bahwa NATO tidak akan membantu Amerika Serikat jika diminta.
“Kami tidak pernah membutuhkan mereka,” kata Trump saat itu.
Fakta sejarah mencatat bahwa Inggris dan negara-negara sekutu lainnya terlibat dalam perang Afghanistan sebagai respons langsung atas aktivasi Pasal 5 NATO oleh Amerika Serikat. Hingga kini, AS menjadi satu-satunya negara yang pernah menggunakan klausul tersebut. Dalam konflik Afghanistan, Inggris menempati posisi kedua dengan jumlah korban militer terbanyak setelah Amerika Serikat.
Menteri Angkatan Bersenjata Inggris, Al Carns, yang telah lima kali bertugas di Afghanistan, menegaskan bahwa tentara Inggris bertempur berdampingan dengan pasukan AS di garis depan.
“Mereka menumpahkan darah, keringat, dan air mata bersama,” ujarnya.
Penolakan terhadap pernyataan Trump juga datang dari kalangan politik lintas partai. Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris, Emily Thornberry, menyebut komentar Trump sebagai penghinaan terhadap keluarga prajurit yang gugur. Sementara itu, pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menilai pernyataan Trump tidak berdasar.
“Mengatakan sekutu NATO tidak berada di garis depan adalah omong kosong,” tegasnya.
Kontroversi ini kembali membuka perdebatan mengenai solidaritas transatlantik dan penghargaan terhadap peran negara-negara sekutu dalam konflik global.














