Antara Rezeki dan Tragedi: Rangkuman Peristiwa Memilukan Selama Banjir Jakarta

JurnalPatroliNews – Jakarta – Banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya beberapa hari terakhir menyisakan beragam cerita, mulai dari perjuangan ekonomi warga hingga peristiwa yang mengundang simpati.

Di Jalan Daan Mogot Raya, Jakarta Barat, genangan air setinggi 50 cm tidak hanya menghambat lalu lintas tetapi juga memunculkan peluang ekonomi bagi warga lokal.

Fahri Setiawan, seorang pelajar berusia 18 tahun, bersama rekan-rekannya menawarkan jasa angkut sepeda motor menggunakan gerobak untuk menyeberangi banjir.

Inisiatif yang sudah ia lakukan sejak banjir besar 2020 ini menjadi solusi bagi pemotor yang takut kendaraannya mogok sekaligus memberikan penghasilan tambahan di saat sekolah sedang libur.

Kondisi cuaca yang ekstrem juga berdampak pada geliat perdagangan di Pasar Asemka, Jakarta Utara. Kios-kios jas hujan kini menjadi pusat perhatian pembeli yang ingin tetap beraktivitas di tengah hujan. Rizal, salah satu pedagang, menyebutkan bahwa permintaan meningkat drastis hingga ia mampu menjual lebih dari 10 lusin jas hujan dalam sehari.

Menurutnya, jas hujan menjadi magnet utama bagi konsumen di tengah musim penghujan yang konsisten melanda ibu kota sejak pagi hingga malam.

Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, duka mendalam menyelimuti wilayah Bekasi dan Jakarta Barat. Seorang pengemudi ojek online bernama Said Asra meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal saat melintasi genangan air di Jalan Raya Inspeksi Kalimalang, Bekasi. Pihak kepolisian menduga korban kehilangan kendali akibat jarak pandang dan kondisi jalan yang tertutup banjir.

Di lokasi lain, tepatnya di Jalan Latumenten, Jelambar, seorang pria berinisial AR ditemukan meninggal di dalam mobilnya saat terjebak kemacetan parah.

Dugaan sementara menunjukkan korban meninggal karena sakit, diperkuat dengan temuan obat asma di dalam tasnya.

Menanggapi rentetan peristiwa ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa persoalan banjir di Jakarta sangat kompleks.

Selain faktor alam berupa cuaca ekstrem, perilaku membuang sampah sembarangan dan pembangunan hunian di bantaran sungai masih menjadi kendala utama.

Pramono menegaskan bahwa pemerintahannya kini fokus melakukan normalisasi pada beberapa sungai utama seperti Sungai Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Cakung Lama sebagai upaya jangka panjang untuk meminimalisir dampak banjir di masa mendatang.