IHSG Disetop Sementara, Purbaya Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Solid

JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara terkait keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) pada Kamis pagi, 29 Januari 2026. Langkah tersebut ditempuh setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam hingga sekitar 8 persen dan turun ke level 7.654,66.

Menurut Purbaya, tekanan di pasar saham lebih dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya laporan terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Dalam laporan tersebut, MSCI menyoroti isu keterbukaan informasi serta praktik perdagangan saham di pasar modal Indonesia. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi dasar perekonomian nasional masih berada dalam keadaan sehat.

“Yang perlu saya sampaikan, fundamental ekonomi Indonesia tidak bermasalah. Ke depan justru akan semakin kuat. Reaksi pasar ini lebih karena faktor kejutan, terutama kemungkinan Indonesia dipersepsikan sebagai pasar frontier,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Ia menilai gejolak yang terjadi bersifat sementara dan tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi nasional. Purbaya juga menyinggung penurunan tajam pada saham-saham spekulatif yang selama ini kerap menjadi sorotan.

“Kalau yang terpukul itu saham-saham gorengan, saya sudah lama mengingatkan agar pasar dibersihkan dari praktik semacam itu. Ini bukan persoalan fundamental ekonomi,” tambahnya.

Purbaya mengungkapkan bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar segera menindaklanjuti catatan yang disampaikan MSCI. Ia menyebut Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, akan menyampaikan penjelasan resmi terkait langkah perbaikan yang akan dilakukan.

“Saya tidak perlu turun langsung karena fondasi ekonomi kita kuat. Hal-hal yang menjadi perhatian MSCI akan ditangani OJK. Pak Mahendra nanti akan menyampaikan penjelasan, kemungkinan hari ini,” jelasnya.

Sebelumnya, MSCI memang mengemukakan kekhawatiran investor global terhadap tingkat transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Meski BEI telah melakukan sejumlah pembaruan, termasuk perbaikan terbatas pada data free float emiten, MSCI menilai masih ada aspek yang perlu ditingkatkan untuk memperkuat kepercayaan pasar internasional.