Gencatan Senjata Berlanjut, COGAT Mulai Operasikan Jalur Perlintasan Rafah–Mesir

JurnalPatroliNews – Jakarta – Otoritas Israel resmi memulai fase uji coba pembukaan kembali perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir pada Minggu (1/2/2026). Langkah ini dilakukan setelah jalur vital tersebut mengalami penutupan berkepanjangan sejak pertengahan tahun 2024.

Meskipun pembukaan ini menjadi kabar baik bagi ribuan warga, akses yang diberikan masih bersifat sangat terbatas dan difokuskan pada pergerakan orang, sementara arus bantuan kemanusiaan dalam skala penuh masih menunggu koordinasi lebih lanjut.

Badan Kementerian Pertahanan Israel (COGAT) menyatakan bahwa operasional perbatasan saat ini berada di bawah pengawasan misi Uni Eropa dan dikoordinasikan secara ketat dengan pemerintah Mesir.

Pembukaan ini dilakukan tak lama setelah jasad sandera terakhir Israel, Ran Gvili, berhasil ditemukan dan dipulangkan. Meski demikian, situasi di lapangan masih cukup rapuh lantaran insiden kekerasan kecil masih terjadi di beberapa titik Gaza meskipun status gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat tetap diberlakukan.

Bagi penduduk Gaza, pembukaan gerbang Rafah adalah jalur harapan untuk bertahan hidup. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 200 pasien dengan kondisi kritis kini sedang mengantre izin keluar untuk mendapatkan perawatan medis yang memadai di Mesir.

Selain pasien, pembukaan terbatas ini juga memungkinkan kedatangan sejumlah personel yang berafiliasi dengan Otoritas Palestina untuk mulai bertugas di dalam wilayah Gaza sebagai bagian dari persiapan administrasi pemerintahan sipil.

Sesuai kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober lalu, pasukan Israel telah menarik diri ke garis batas tertentu, namun tetap memegang kendali keamanan atas siapa saja yang melintasi perbatasan tersebut.

Fase uji coba ini diharapkan dapat segera meningkat menuju pengoperasian penuh pada Senin mendatang. Hal ini sangat dinantikan oleh warga sipil, mulai dari penderita penyakit kronis yang membutuhkan dialisis hingga para mahasiswa yang terjebak dan tidak bisa melanjutkan studi mereka ke luar negeri.