Iran Bersiap Buka Kembali Jalur Perundingan Nuklir dengan Amerika Serikat

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikabarkan telah memberi arahan agar proses dialog nuklir dengan Amerika Serikat kembali diaktifkan. Kantor berita Tasnim, mengutip sumber yang memahami langsung dinamika internal, melaporkan bahwa pembicaraan berpotensi dimulai dalam waktu dekat dengan melibatkan pejabat tingkat tinggi dari kedua negara.

Menurut laporan tersebut, pertemuan lanjutan diperkirakan akan mempertemukan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dengan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff. Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian mengenai jadwal maupun lokasi perundingan.

Sampai saat ini, kantor Presiden Pezeshkian juga belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi kabar tersebut.

Rencana pengaktifan kembali dialog ini mencuat di tengah meningkatnya tensi di kawasan Timur Tengah, terutama setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait pengiriman kekuatan militer Amerika ke wilayah tersebut. Trump mengungkapkan bahwa armada besar AS tengah bergerak menuju Timur Tengah, sembari memperingatkan Iran agar bersedia membuka kembali pembicaraan nuklir atau menghadapi opsi tindakan militer.

Dalam beberapa hari terakhir, intensitas komunikasi diplomatik dilaporkan meningkat. Sejumlah negara di kawasan, termasuk Turki, disebut turut berperan sebagai pihak yang mendorong penurunan eskalasi antara Teheran dan Washington.

Sementara itu, dalam konferensi pers rutin di Teheran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa negaranya tidak berada di bawah tekanan Amerika Serikat dalam mengambil sikap terkait isu nuklir.

Sebagai latar belakang, Iran dan AS sempat menjalani perundingan nuklir secara tidak langsung pada Juni tahun lalu. Namun proses tersebut terhenti setelah Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran yang berujung pada konflik bersenjata selama 12 hari dan memperparah ketegangan regional.

Pasca konflik tersebut, pemerintah Iran memutuskan menghentikan dialog dengan Washington, dengan tudingan bahwa Amerika Serikat turut bertanggung jawab atas serangan Israel yang memicu eskalasi besar tersebut.