Megawati Soekarnoputri Jadi Tokoh Non-Saudi Pertama Peraih Gelar Kehormatan PNU

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato akademik yang emosional usai menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin, 9 Februari 2026.

Megawati mencatatkan sejarah sebagai tokoh pertama di luar warga negara Arab Saudi yang menerima gelar dari universitas khusus perempuan terbesar di dunia tersebut.

Penganugerahan ini diberikan atas prestasi Megawati sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia serta konsistensinya dalam memperjuangkan pemberdayaan perempuan.

Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa pemberdayaan perempuan dalam Islam merupakan perwujudan dari konsep amanah dan keadilan.

Ia mengutip Surat An-Nisa ayat 1 dan Al-Hujurat ayat 13 untuk menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaan.

Menurutnya, sejarah Islam telah membuktikan peran besar perempuan melalui sosok-sosok tangguh seperti Khadijah binti Khuwailid yang mandiri dalam ekonomi, Aisyah binti Abu Bakar sebagai rujukan ilmu, hingga Nusaibah binti Ka’ab yang menjadi prajurit di medan laga.

Megawati juga merefleksikan perjalanan politiknya dari anggota DPR hingga menjadi pemimpin negara. Ia menegaskan bahwa kualitas pemerintahan yang efektif sangat ditentukan oleh keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan strategis.

Di hadapan audiens internasional, Megawati memperkenalkan putrinya, Puan Maharani, yang kini menjabat sebagai Ketua DPR RI.

Ia menekankan bahwa perempuan harus memiliki kapasitas yang luas namun tetap menjaga harmoni dalam keluarga, sebagaimana visi yang tertuang dalam buku Sarinah karya Bung Karno.

Suasana haru menyelimuti ruangan saat Megawati menutup pidatonya dengan mengenang ibundanya, Fatmawati Soekarno.

Sambil menitikkan air mata, ia menceritakan peran heroik Fatmawati sebagai pejuang kemerdekaan yang menjahit Sang Saka Merah Putih untuk Proklamasi 1945.

Baginya, kisah para perempuan dalam sejarah Islam dan sejarah nasional Indonesia adalah bukti nyata bahwa perempuan bukan hanya pelengkap, melainkan penopang moral dan penggerak peradaban yang berdaulat.