Pengamat: Tanpa Kendali Kekuasaan, Jokowi Sulit Dongkrak PSI dan Gibran di 2029

JurnalPatroliNews – Jakarta – Mantan Presiden Joko Widodo dinilai akan menghadapi tantangan berat jika ingin memenangkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan mendorong elektabilitas Gibran Rakabuming Raka pada Pemilu 2029, tanpa dukungan perangkat kekuasaan seperti saat masih menjabat.

Pandangan tersebut disampaikan pemerhati sosial dan politik Sugiyanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (17/2/2026). Menurutnya, faktor kekuasaan memiliki pengaruh signifikan dalam kontestasi politik nasional.

“Tanpa memegang kendali kekuasaan, akan sulit bagi Jokowi memenangkan PSI sekaligus Gibran,” ujar Sugiyanto.

Ia menilai, meskipun Jokowi masih memiliki basis pendukung yang kuat dan pengaruh politik yang luas, absennya akses terhadap instrumen kekuasaan dapat membatasi daya dorong elektoral, terutama dalam menghadapi dinamika politik yang semakin kompetitif menuju 2029.

Diketahui, sejak awal 2026 Jokowi secara resmi menjadi tokoh utama kampanye PSI dan menyatakan dukungan penuh kepada partai tersebut. Di internal PSI, Jokowi dipandang sebagai patron politik sekaligus figur teladan bagi kader muda.

Komitmen itu ditegaskan Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026). Dalam pidatonya, ia menyatakan siap bekerja keras demi membesarkan partai.

“Saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI,” ujar Jokowi di hadapan kader.

Ia bahkan mengulang komitmennya dengan nada lebih tegas. “Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja mati-matian untuk PSI!” serunya yang disambut tepuk tangan peserta Rakernas.

Jokowi kembali menegaskan tekadnya untuk total dalam mendukung PSI. “Saudara bekerja habis-habisan untuk PSI, saya pun akan bekerja habis-hhabisan untuk PSI,” sambungnya.

Pengamat menilai, pernyataan tersebut menunjukkan keseriusan Jokowi dalam mengonsolidasikan dukungan politik bagi PSI. Namun, efektivitasnya tetap akan sangat ditentukan oleh peta koalisi, kekuatan mesin partai, serta dinamika politik nasional dalam beberapa tahun ke depan.