JurnalPatroliNews – TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah mampu menggulingkan Republik Islam Iran meski telah berupaya selama hampir setengah abad.
Pernyataan itu disampaikan Khamenei saat berpidato di hadapan ribuan warga Provinsi Azerbaijan Timur menjelang peringatan pemberontakan Tabriz 1978. Dalam pidatonya, ia menanggapi retorika militer yang kerap dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurut Khamenei, superioritas militer bukanlah jaminan kemenangan mutlak. Ia menilai kekuatan sebesar apa pun dapat dilumpuhkan oleh serangan yang menentukan.
“Militer terkuat di dunia pun terkadang bisa menerima pukulan yang begitu keras sehingga tidak mampu bangkit kembali,” ujarnya, seperti dikutip media Al Mayadeen, Rabu (18/2/2026).
Khamenei juga menanggapi ancaman pengerahan kapal perang AS ke kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan langkah tersebut tidak akan menggoyahkan Iran.
“Kapal perang memang berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya daripada kapal perang adalah senjata yang dapat menenggelamkannya ke dasar laut,” tegasnya.
Dalam pidatonya, Khamenei bahkan mengutip pernyataan Trump yang mengakui bahwa selama 47 tahun Amerika Serikat belum mampu menggulingkan pemerintahan Iran.
“Selama 47 tahun, Amerika belum mampu melenyapkan Republik Islam. Ini adalah pengakuan yang baik. Saya katakan: Anda juga tidak akan mampu melakukan ini,” katanya.
Menurutnya, berbagai pernyataan keras dari Washington menunjukkan ambisi dominasi terhadap bangsa Iran. Ia menilai tekanan politik dan militer tersebut sebagai upaya untuk memaksakan kehendak terhadap kedaulatan negaranya.
Selain isu keamanan, Khamenei juga menegaskan hak Iran untuk mengembangkan energi nuklir, termasuk pengayaan uranium, selama berada dalam kerangka regulasi internasional. Ia menyebut program nuklir Iran bersifat sipil dan sah menurut ketentuan International Atomic Energy Agency.
Ia pun menekankan pentingnya kekuatan militer sebagai alat pertahanan nasional. Menurutnya, negara yang tidak memiliki kemampuan pertahanan memadai akan rentan terhadap ancaman eksternal, sehingga postur militer Iran harus dipandang sebagai langkah pencegahan, bukan agresi.














