JurnalPatroliNews – Jakarta – Suasana duka menyelimuti wilayah timur Afghanistan setelah serangan udara lintas batas yang dilancarkan militer Pakistan menewaskan sedikitnya 18 orang, Minggu (22/2/2026).
Meskipun Islamabad mengklaim serangan tersebut menargetkan basis kelompok militan, laporan dari lapangan menunjukkan bahwa warga sipil, termasuk anak-anak, menjadi korban utama dalam insiden berdarah ini.
Pemboman yang dimulai sekitar tengah malam tersebut menghantam tiga distrik di Provinsi Nangarhar dan Paktika. Nezakat (35), seorang petani dari Distrik Bihsud yang kehilangan hampir seluruh anggota keluarganya, menceritakan kepiluannya saat melihat rumahnya hancur total. “Ayah dan anak-anak saya ada di sana. Semuanya tewas,” ungkapnya di sela prosesi pemakaman massal.
Juru bicara polisi Nangarhar, Sayed Tayeeb Hammad, mengonfirmasi bahwa dalam satu lokasi saja, terdapat 23 orang tertimbun reruntuhan, dengan 18 di antaranya dinyatakan meninggal dunia.
Klaim Pakistan dan Respons Keras Afghanistan Pemerintah Pakistan berdalih bahwa operasi militer ini menyasar tujuh lokasi yang diyakini menjadi basis Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP) dan afiliasi Islamic State (IS) Provinsi Khorasan.
Serangan ini disebut sebagai aksi balasan atas rangkaian bom bunuh diri yang mengguncang Pakistan, termasuk serangan di sebuah masjid Syiah di Islamabad dua pekan lalu yang menewaskan 40 orang.
Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid. Ia mengutuk aksi tersebut sebagai tindakan kriminal yang secara sengaja menargetkan pemukiman warga sipil.
Kementerian Pertahanan Afghanistan pun menyatakan akan menyiapkan respons yang “tepat dan terukur” atas pelanggaran kedaulatan wilayah mereka.
Ketegangan antara kedua negara bertetangga ini terus meningkat sejak 2021. Upaya negosiasi dan gencatan senjata yang pernah dilakukan sebelumnya hingga kini belum membuahkan kesepakatan permanen, sementara konflik di garis perbatasan semakin sering memakan korban jiwa di kedua belah pihak.














