JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menyoroti masih rendahnya penyaluran kredit perbankan nasional kepada sektor UMKM di luar skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga 2025, realisasinya baru mencapai 19,4 persen.
Menurut Maman, dari total kredit perbankan sebesar Rp8.149 triliun, hanya sekitar Rp1.580 triliun yang mengalir ke pelaku UMKM. Angka tersebut dinilai masih jauh dari target yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
“Realisasi baru 19,4 persen, artinya masih ada sekitar 6 persen yang belum mampu kita penuhi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Dalam RPJMN, pemerintah menargetkan porsi kredit UMKM mencapai 25 persen atau setara sekitar Rp2.100 triliun. Namun, kondisi saat ini menunjukkan kesenjangan yang cukup besar.
Maman juga mengungkap adanya ketimpangan penyaluran kredit. Sekitar Rp6.569 triliun atau 80,6 persen dari total kredit justru terserap oleh kurang lebih 50 korporasi besar.
Ia menegaskan evaluasi terhadap penyaluran kredit di luar skema KUR akan menjadi prioritas pemerintah ke depan. Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan pembiayaan perbankan benar-benar efektif mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah.
Di sisi lain, pemerintah tetap mengandalkan KUR sebagai instrumen utama untuk meningkatkan daya saing UMKM. Untuk 2026, target penyaluran KUR dipatok sebesar Rp295 triliun dengan sasaran 1,37 juta debitur baru.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 realisasi penyaluran KUR mencapai Rp270 triliun yang menjangkau 4,58 juta debitur. Dari jumlah tersebut, Rp163,9 triliun di antaranya disalurkan ke sektor produktif.














