JurnalPatroliNews – Jakarta -Pemerintah Korea Utara melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman keras atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah kedaulatan Iran.
Dalam pernyataan resminya, Pyongyang menyebut operasi militer tersebut sebagai bentuk agresi ilegal yang melanggar hukum internasional dan kedaulatan nasional sebuah negara merdeka.
Berdasarkan laporan kantor berita pemerintah Korean Central News Agency (KCNA) yang dikutip oleh Al-Jazeera pada Minggu (1/3/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan bahwa keterlibatan Washington dalam serangan tersebut bukanlah hal yang mengejutkan.
Pyongyang menilai langkah militer ini merupakan konsekuensi logis dari karakter kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang mereka labeli sebagai hegemonik dan berperilaku layaknya gangster.
Korea Utara menekankan bahwa serangan yang dilakukan secara gabungan oleh pasukan Israel dan Amerika Serikat tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.
Pihak otoritas di Pyongyang memandang tindakan ini sebagai perang agresi murni yang bertujuan untuk merongrong stabilitas pemerintahan di Teheran.
Situasi di ibu kota Iran dilaporkan terus memanas setelah ledakan hebat kembali terdengar di sejumlah titik strategis pada Minggu (1/3/2026) dini hari.
Laporan dari kantor berita IRNA menyebutkan bahwa serangan udara dan rudal menghantam kawasan persimpangan Seyyed Khandan, Qasr, Vanak Square, hingga Jalan Motahari.
Pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah mengonfirmasi bahwa mereka melakukan operasi udara berskala besar yang menargetkan infrastruktur utama di jantung ibu kota Iran.
Melansir laporan Reuters, militer Israel menyatakan bahwa target operasi ini adalah fasilitas yang berkaitan dengan struktur rezim di Teheran.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah ini telah memicu reaksi diplomatik yang luas, terutama dari negara-negara yang selama ini memiliki hubungan strategis dengan Iran.
Korea Utara, sebagai salah satu mitra internasional Teheran, secara terbuka memposisikan diri untuk menentang intervensi militer Barat dan sekutunya di kawasan tersebut, yang diprediksi akan semakin memperkeruh eskalasi keamanan global.












