JurnalPatroliNews – Jakarta -Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu krisis logistik energi global yang signifikan.
Sedikitnya 150 kapal tanker minyak mentah serta produk turunannya dilaporkan tertahan di perairan terbuka Teluk, sementara 100 kapal lainnya memilih menunggu di lepas pantai Uni Emirat Arab dan Oman, tepat di luar Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Al Jazeera dan Reuters pada Minggu (1/3/2026), kelumpuhan aktivitas pelayaran ini merupakan dampak langsung dari pengumuman sepihak Teheran mengenai penutupan jalur Selat Hormuz.
Langkah tersebut diambil Pemerintah Iran sebagai respons atas serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh kekuatan udara Amerika Serikat dan Israel ke wilayah kedaulatan mereka.
Respons cepat ditunjukkan oleh sejumlah raksasa pelayaran asal Jepang, seperti Nippon Yusen, Mitsui O.S.K. Lines, dan Kawasaki Kisen Kaisha. Perusahaan-perusahaan tersebut telah menginstruksikan seluruh armada mereka untuk tidak memasuki Selat Hormuz dan tetap berada di zona aman.
Keselamatan awak kapal serta muatan menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian situasi keamanan di kawasan tersebut.
Selat Hormuz merupakan urat nadi distribusi energi dunia yang sangat vital. Jalur sempit yang memisahkan Iran dan Oman ini menjadi perlintasan bagi sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global.
Data dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat pada tahun 2024 mencatat sebanyak 20 juta barel minyak mentah dan volume besar gas alam cair (LNG) melintasi jalur ini setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Kondisi terkini dari citra satelit menunjukkan penumpukan kapal tanker di dekat pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab.
Misi keamanan maritim Uni Eropa, Aspides, mengungkapkan bahwa banyak kapal menerima peringatan radio dari Garda Revolusi Iran yang secara tegas melarang segala bentuk pelintasan di Selat Hormuz.
Hal ini menyebabkan perusahaan minyak dan pemilik tanker menangguhkan pengiriman bahan bakar secara total.
Meski Angkatan Laut Inggris menyatakan perintah penutupan tersebut tidak memiliki landasan hukum internasional yang mengikat, mereka tetap menyarankan setiap kapal yang melintas untuk meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi.
Senada dengan itu, Asosiasi Pemilik Kapal Tanker Internasional (Intertanko) juga telah menerima peringatan risiko dari Angkatan Laut Amerika Serikat mengenai bahaya operasional di Teluk Oman hingga Laut Arab bagian utara.
Di sektor gas alam cair, analis Kpler melaporkan setidaknya 14 kapal LNG tanpa muatan telah mengubah rute atau memperlambat kecepatan secara signifikan di sekitar selat.
Jika ketegangan tidak segera mereda, jumlah kapal yang terdampar diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan, yang berpotensi memicu lonjakan harga energi di pasar global.











