Menkeu Purbaya Akui Sempat ‘Di-Roasting’ Netizen TikTok Soal Pelemahan Rupiah

JurnalPatroliNews – JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku menjadi sasaran kritik warganet di media sosial TikTok menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat.

Purbaya mengatakan dinamika ekonomi global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik, telah mendorong penguatan dolar AS sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, menurutnya tekanan terhadap mata uang domestik masih tergolong relatif terkendali jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di kawasan.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS depresiasinya sekitar 0,3 persen. Itu masih lebih baik dibandingkan negara lain di sekitar kita, seperti Malaysia yang minus 0,5 persen dan Thailand minus 1,6 persen,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ia menegaskan bahwa penilaian terhadap kondisi rupiah tidak seharusnya hanya berfokus pada level kurs semata, tetapi juga pada besarnya tekanan atau tingkat pelemahan yang dialami.

“Jadi jangan hanya melihat levelnya saja, tetapi juga berapa besar pelemahannya. Kalau dilihat dari situ, kondisi kita masih cukup baik,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Purbaya juga berkelakar mengenai komentar pedas yang diterimanya dari pengguna media sosial.

Menurutnya, tidak sedikit warganet yang melontarkan kritik tajam terkait kondisi rupiah, bahkan secara langsung menyindir kinerjanya sebagai menteri keuangan.

“Di TikTok saya dimaki-maki orang. Katanya, ‘Hei Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa saja, itu rupiah lihatin,’” ujarnya sambil tersenyum.

Meski menjadi bahan perbincangan di media sosial, Purbaya menilai kondisi rupiah saat ini masih mencerminkan ketahanan ekonomi nasional. Ia menilai depresiasi yang terjadi masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan tekanan yang dialami sejumlah negara lain.

“Kita harus menilai secara adil dengan membandingkan kondisi kita dengan negara lain di dunia. Dari situ terlihat bahwa kita masih cukup baik, artinya kebijakan fiskal dan moneter kita masih dipercaya dan fondasi ekonomi kita tetap kuat,” pungkasnya.