JurnalPatroliNews – Jakarta – Hari Raya Idulfitri dimaknai sebagai momentum penting untuk memperkuat kepedulian sosial, berbagi dengan sesama, serta mempererat tali persaudaraan lintas perbedaan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa semangat berbagi yang tumbuh selama Ramadan perlu terus dijaga, tidak hanya dalam lingkup nasional tetapi juga secara global.
Menurutnya, kepedulian sosial harus menjangkau masyarakat luas, termasuk saudara-saudara di berbagai negara yang tengah mengalami kesulitan, seperti di Palestina dan Iran, serta wilayah lain di dunia.
“Memberi adalah panggilan dari semangat keislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadan,” ujar Haedar dalam keterangan resminya, Kamis (19/3/2026).
Selain berbagi, Haedar juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah ditempa selama Ramadan, salah satunya kemampuan menahan amarah. Ia mengingatkan bahwa meski sifat marah merupakan bagian dari manusia, sikap berlebihan harus dihindari.
Pesan lain yang ditekankan adalah pentingnya saling memaafkan. Menurutnya, setiap individu perlu memiliki kelapangan hati untuk memberi maaf kepada orang lain, sekaligus berani meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Dengan demikian, ibadah puasa yang dijalankan selama Ramadan tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan sosial, baik secara pribadi maupun kolektif.
Memasuki bulan Syawal, Haedar mengajak umat Islam menjadikan silaturahmi sebagai tradisi yang terus dihidupkan. Silaturahmi dinilai sebagai ruang untuk memperbaiki kualitas hubungan antarmanusia, mulai dari lingkup keluarga hingga hubungan antarbangsa.
“Di bulan Syawal, ketika kaum muslimin memulai satu Syawal sebagai hari pertama ber-Idulfitri, kebiasaan yang sangat baik adalah bersilaturahmi,” katanya.
Ia menambahkan, rusaknya nilai kemanusiaan kerap berawal dari renggangnya hubungan sosial. Oleh karena itu, membangun persaudaraan menjadi hal yang sangat penting, tidak hanya sesama umat beriman, tetapi juga dengan seluruh elemen masyarakat.
Namun demikian, Haedar mengingatkan bahwa upaya membangun persaudaraan harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan, sebagaimana terkandung dalam ajaran Islam, serta tidak diarahkan pada kerja sama dalam keburukan.














