JurnalPatroliNews – TEL AVIV — Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan murka terhadap Direktur Mossad, David Barnea, menyusul kegagalan prediksi intelijen terkait dampak serangan terhadap Iran.
Ketegangan internal tersebut mencuat setelah analisis Mossad yang memperkirakan serangan dapat memicu kekacauan dan keruntuhan di Iran, tidak terbukti di lapangan.
Pengamat Timur Tengah Faisal Assegaf mengungkapkan, laporan mengenai kemarahan Netanyahu beredar dari media Israel yang menyoroti adanya ketidaksesuaian antara prediksi intelijen dan kondisi aktual.
Menurut Faisal, sebelumnya Direktur Mossad menyampaikan bahwa serangan terhadap sejumlah tokoh penting Iran—termasuk pemimpin tertinggi, panglima militer, hingga Menteri Pertahanan—akan memicu kerusuhan dan membuka peluang bagi intervensi yang dapat menggoyahkan rezim.
Namun, skenario tersebut tidak terjadi. Situasi di Iran dilaporkan tetap stabil tanpa tanda-tanda keruntuhan seperti yang diperkirakan.
“Laporan terbaru dari Channel 12 Israel sudah menyatakan Netanyahu sangat marah,” ujar Faisal dalam keterangan daring, Senin (23/3/2026).
Ia menilai kondisi ini menunjukkan adanya kekeliruan dalam perhitungan intelijen Israel, di mana penilaian yang disampaikan tidak mencerminkan realitas di lapangan.
“Ternyata assessment dari Direktur Mossad sangat keliru. Hal itu tidak terjadi di Iran,” tambahnya.
Lebih lanjut, Faisal menyebut Iran sejak awal telah menegaskan akan terus melakukan perlawanan karena merasa sebagai pihak yang diserang. Hal ini membuat konflik berpotensi berlanjut tanpa adanya perubahan signifikan dalam dinamika internal negara tersebut.
Situasi ini sekaligus menandai tantangan besar bagi Israel dalam membaca perkembangan geopolitik kawasan, terutama di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.














