JurnalPatroliNews – Jakarta – Harga aset kripto utama Bitcoin mencatat penguatan pada perdagangan Selasa siang, 24 Maret 2026. Nilai Bitcoin naik sekitar 2,12 persen ke level 70.168 dolar AS, seiring membaiknya sentimen investor terhadap aset berisiko.
Berdasarkan data CoinMarketCap, penguatan ini dipicu perkembangan geopolitik terbaru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran selama lima hari. Keputusan tersebut diambil menyusul adanya pembicaraan yang dinilai menunjukkan sinyal positif.
Pasar merespons kondisi ini sebagai indikasi meredanya ketegangan global, sehingga mendorong investor kembali masuk ke instrumen berisiko, termasuk saham dan kripto. Bahkan sehari sebelumnya, Bitcoin sempat menembus level 71.000 dolar AS.
Selain faktor sentimen, kenaikan harga juga dipengaruhi aspek teknikal di pasar. Lonjakan harga memicu likuidasi besar-besaran terhadap posisi “short” atau taruhan penurunan harga. Dalam 24 jam terakhir, tercatat likuidasi mencapai lebih dari 198 juta dolar AS pada Bitcoin.
Fenomena ini dikenal sebagai short squeeze, yakni kondisi ketika kenaikan harga memaksa pelaku pasar membeli kembali aset untuk menutup kerugian, sehingga mempercepat laju kenaikan.
Untuk jangka pendek, Bitcoin masih berada di area krusial. Jika mampu bertahan di kisaran 70.800 dolar AS, harga berpotensi melanjutkan kenaikan menuju 72.000 dolar AS. Sebaliknya, jika turun di bawah 69.200 dolar AS, risiko koreksi lanjutan tetap terbuka.
Ke depan, pergerakan Bitcoin akan sangat bergantung pada dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Jika ketegangan terus mereda, tren positif diperkirakan berlanjut. Namun, apabila eskalasi kembali meningkat, pasar kripto berpotensi kembali mengalami volatilitas tinggi.














