JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami tekanan berat akibat eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran. Sejumlah analis memperingatkan pelemahan rupiah bisa menembus level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu ke depan.
Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menilai kondisi ekonomi Indonesia selama ini cenderung dibingkai dengan narasi optimistis yang belum tentu mencerminkan kondisi riil.
“Indonesia terlena atau diterlenakan oleh narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat, cadangan devisa besar, mencapai lebih dari 150 miliar dolar AS, dan struktur utang aman karena didominasi tenor jangka panjang,” ujar Anthony dalam risetnya, Selasa, 24 Maret 2026.
Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun nilai tukar, masih tergolong rentan terhadap guncangan eksternal.
“Fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, dan nilai tukar sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh,” tegasnya.
Anthony menyoroti konflik Iran sebagai faktor eksternal yang berpotensi memperparah tekanan terhadap perekonomian nasional. Gangguan pasokan energi global, lonjakan harga minyak, serta pergeseran arus modal ke aset aman dinilai akan memberikan tekanan simultan terhadap neraca eksternal Indonesia.
“Konflik Iran bisa menjadi katalis yang mempercepat tekanan yang sudah ada, mulai dari kenaikan harga energi hingga keluarnya modal dari negara berkembang,” jelasnya.
Ia juga mengkritisi komposisi cadangan devisa Indonesia yang dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi riil, karena sebagian besar berasal dari akumulasi utang luar negeri.
“Cadangan devisa besar dalam angka, tetapi terisi oleh akumulasi utang luar negeri. Artinya, utang tersebut lebih banyak digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi,” ujarnya.
Anthony memperingatkan, ketergantungan pada utang untuk menjaga stabilitas nilai tukar tidak dapat berlangsung dalam jangka panjang. Berdasarkan data historis, pelemahan rupiah sebesar 15 hingga 20 persen disebut bukan hal baru.
Dengan posisi nilai tukar saat ini yang mendekati Rp17.000 per dolar AS, ia memperkirakan pelemahan hingga 20 persen dapat mendorong rupiah ke kisaran Rp20.400 per dolar AS.
“Angka ini bukan lagi spekulatif, tetapi berbasis data historis,” katanya.
Ia bahkan membuka kemungkinan depresiasi yang lebih dalam apabila situasi global semakin memburuk dalam tiga hingga enam bulan ke depan.
Sebagai perbandingan, Anthony mengingatkan krisis moneter 1997, ketika pelemahan tajam rupiah memaksa pemerintah Indonesia meminta bantuan internasional dari International Monetary Fund.
“Sejarah menunjukkan, kejatuhan rupiah sebesar 25-30 persen pada 1997 membuat pemerintah harus meminta bantuan likuiditas,” pungkasnya.














