JurnalPatroliNews – LONDON — Pemerintah Inggris akan menggelar uji coba pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak, termasuk opsi larangan total, pembatasan durasi, hingga penerapan jam malam digital.
Program yang dikutip dari Reuters, Kamis (26/3/2026), ini akan melibatkan sekitar 300 remaja beserta keluarga mereka. Uji coba tersebut bertujuan mengukur dampak langsung penggunaan media sosial terhadap kualitas tidur, kehidupan keluarga, serta performa akademik anak.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terkait pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak. Pemerintah Inggris bahkan tengah mempertimbangkan kebijakan lebih tegas, serupa dengan yang dirancang di Australia, yakni melarang akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Namun, rencana tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Sejumlah ahli menilai belum terdapat bukti ilmiah yang cukup kuat untuk memastikan efektivitas larangan media sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi anak-anak. Penolakan juga datang dari sebagian remaja di London yang merasa kebijakan itu terlalu membatasi.
Pemerintah menegaskan bahwa hasil uji coba ini akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan ke depan. Selain itu, proses konsultasi juga terus dilakukan dengan berbagai pihak, mulai dari orang tua, anak-anak, hingga para pakar.
Menteri Teknologi Inggris, Liz Kendall, menyatakan pemerintah ingin memastikan generasi muda mendapatkan lingkungan tumbuh yang sehat dan seimbang.
“Kami bertekad memberikan masa kecil yang layak bagi kaum muda sekaligus mempersiapkan mereka untuk masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, uji coba ini penting untuk menghasilkan bukti konkret sebelum pemerintah mengambil keputusan final terkait pembatasan penggunaan media sosial bagi anak-anak.














