JurnalPatroliNews – Jakarta – Eskalasi militer di Timur Tengah dalam rangkaian Operation Epic Fury memasuki babak baru. Meski Presiden AS Donald Trump mengeklaim adanya jalur diplomasi yang “sangat kuat” dengan Teheran, fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Washington dilaporkan tengah memobilisasi tambahan hingga 7.000 personel pasukan elit, armada kapal perang, dan jet tempur untuk memperkuat posisi mereka menghadapi Iran.
Berdasarkan laporan investigasi Al Jazeera, penguatan militer ini terbagi dalam tiga formasi tempur utama yang bergerak dari titik berbeda di belahan dunia:
1. Kekuatan Amfibi dari Pasifik (31st MEU) Dipimpin oleh kapal serbu amfibi USS Tripoli, Pasukan Ekspedisi Marinir ke-31 telah bertolak dari Sasebo, Jepang. Armada ini terpantau telah melewati Selat Malaka dan mencapai Diego Garcia di Samudra Hindia pada 23 Maret. Pasukan ini diprediksi akan memasuki zona operasi pada awal April 2026.
2. Gelombang dari Pantai Barat AS (11th MEU) Kekuatan kedua dikerahkan dari California melalui USS Boxer yang membawa Pasukan Ekspedisi Marinir ke-11. Menempuh jarak sekitar 22.200 kilometer, unit beranggotakan sekitar 2.200 personel ini diperkirakan akan memperkuat lini depan pada pertengahan April.
3. Unit Reaksi Cepat (82nd Airborne Division) Tambahan terbaru datang dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang berbasis di Fort Bragg. Sebagai unit reaksi cepat, kehadiran mereka memberikan sinyal kuat akan kemungkinan operasi militer terbatas di darat.
Skenario Operasi: Hormuz hingga Fasilitas Nuklir Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat menyinggung opsi ekstrem terkait pengamanan material nuklir Iran. “Orang-orang harus masuk dan mengambilnya,” tegas Rubio, mengindikasikan kemungkinan operasi infiltrasi.
Analis militer dari International Institute for Strategic Studies, Ruben Stewart, menilai pengerahan pasukan kali ini lebih spesifik untuk misi singkat dan strategis. Setidaknya ada tiga skenario yang mungkin dijalankan:
- Pengamanan total Selat Hormuz untuk menjamin jalur energi dunia.
- Perebutan Pulau Kharg yang merupakan jantung ekspor minyak Iran.
- Operasi khusus untuk melumpuhkan atau menguasai fasilitas nuklir.
Simpang Siur Jalur Diplomasi Di tengah deru mesin perang, klaim kontradiktif muncul dari kedua belah pihak. Trump menyebut telah ada kemajuan dalam 15 poin kesepakatan melalui pembicaraan langsung. Namun, pihak Teheran membantah keras klaim tersebut dan menegaskan bahwa komunikasi sejauh ini hanya terjadi melalui pihak ketiga, tanpa adanya negosiasi formal.
Dinamika ini menunjukkan bahwa meskipun retorika perdamaian dilemparkan, AS tetap menyiapkan opsi militer paling fatal di lapangan, menandakan perang Operation Epic Fury masih jauh dari garis akhir.













