JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Keputusan mengejutkan datang dari Pentagon di tengah meningkatnya ketegangan konflik dengan Iran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, resmi mencopot Jenderal Randy George dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat.
Langkah ini pertama kali dilaporkan oleh sejumlah pejabat pertahanan kepada Reuters yang dikutip CNBC, dan dinilai sebagai bagian dari perombakan besar di jajaran elite militer AS di bawah kepemimpinan Hegseth.
Pencopotan seorang jenderal bintang empat di tengah situasi konflik aktif tergolong sangat jarang terjadi. Kebijakan ini menandai langkah agresif Hegseth dalam merestrukturisasi kepemimpinan militer.
Pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa George, yang masih memiliki sisa masa jabatan lebih dari satu tahun, akan segera memasuki masa pensiun sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41.
Dalam pernyataan resminya, Pentagon menyampaikan apresiasi atas pengabdian panjang George.
“Kami berterima kasih atas pengabdian George selama puluhan tahun dan mendoakan yang terbaik untuk masa pensiunnya,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Namun, di balik pernyataan formal itu, seorang pejabat senior Departemen Pertahanan mengisyaratkan alasan yang lebih tegas.
“Kami menghargai pengabdiannya, tetapi sudah saatnya ada perubahan kepemimpinan di Angkatan Darat,” ujarnya.
Posisi yang ditinggalkan George disebut-sebut akan segera diisi oleh Jenderal Chris LaNeve, yang dikenal memiliki kedekatan dengan Gedung Putih dan lingkaran Presiden Donald Trump.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya menyelaraskan arah kepemimpinan militer dengan visi politik pemerintahan saat ini. George sendiri diketahui merupakan sosok yang diangkat pada era Presiden Joe Biden pada 2023.
Tidak hanya itu, perombakan juga menyasar pejabat tinggi lainnya. Hegseth dilaporkan turut memberhentikan Jenderal David Hodne yang memimpin Komando Transformasi dan Pelatihan Angkatan Darat, serta Mayor Jenderal William Green, Kepala Korps Kapelan Angkatan Darat.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci terkait alasan pencopotan tersebut. Padahal, Angkatan Darat AS dengan kekuatan sekitar 450.000 personel aktif tengah meningkatkan kesiapsiagaan di kawasan Asia Barat. Bahkan, ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 telah dikerahkan ke wilayah tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan operasi darat.
Situasi di Pentagon juga dilaporkan semakin dinamis menyusul sejumlah kebijakan kontroversial Hegseth, mulai dari pencopotan pejabat hukum internal hingga rencana parade militer besar dalam rangka peringatan 250 tahun Angkatan Darat AS yang bertepatan dengan ulang tahun Presiden Trump.
Sejumlah pengamat menilai, langkah cepat dan tegas Hegseth mencerminkan perubahan signifikan dalam arah kebijakan pertahanan Amerika Serikat di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global.














