Dicap Alat Spionase, Fasilitas Cloud Amazon di Bahrain Jadi Sasaran Serangan Iran


JurnalPatroliNews – TEHERAN — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian meluas hingga menyasar sektor teknologi. Pasukan Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menyerang fasilitas komputasi cloud milik Amazon Web Services di Bahrain.

Dalam pernyataan yang disiarkan media Iran, IRGC menuding perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut terlibat dalam aktivitas spionase dan teror terhadap Iran.

“Sebagai bagian dari aksi pertama terhadap perusahaan teknologi yang terlibat dalam spionase dan terorisme, pusat komputasi cloud Amazon di Bahrain diserang dan dihancurkan,” demikian pernyataan yang dikutip pada Jumat (3/4/2026).

IRGC juga memperingatkan bahwa serangan serupa akan terus berlanjut, terutama jika aksi yang mereka sebut sebagai pembunuhan terhadap pejabat Iran masih terjadi. Sejumlah perusahaan teknologi lain disebut telah masuk dalam daftar target berikutnya.

Laporan Financial Times menyebutkan bahwa unit cloud Amazon di Bahrain mengalami kerusakan akibat serangan tersebut, meski belum ada rincian lebih lanjut terkait dampak terhadap operasional layanan.

Sehari sebelumnya, IRGC juga mengancam akan menyerang sedikitnya 18 perusahaan asal AS, termasuk Google dan Microsoft, yang dituding terlibat dalam operasi militer dan aksi pembunuhan di wilayah Iran.

Eskalasi konflik di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan ofensif gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Teheran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk wilayah negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Perkembangan ini menandai meluasnya konflik tidak hanya di ranah militer, tetapi juga ke infrastruktur strategis global, termasuk sektor teknologi yang selama ini relatif berada di luar garis depan konflik bersenjata.