JurnalPatroliNews – Jakarta – Amazon kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar yang berdampak signifikan pada ribuan karyawan, terutama para engineer. Gelombang PHK terbaru ini terjadi di tengah upaya perusahaan mempercepat pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan merampingkan struktur organisasinya.
Mengutip dokumen yang diserahkan ke pemerintah negara bagian Washington, New York, New Jersey, dan California, hampir 40% dari sekitar 4.700 karyawan yang terdampak di empat wilayah tersebut merupakan tenaga teknik.
Jumlah itu mencakup sekitar 1.800 engineer. Angka ini adalah bagian dari lebih dari 14.000 PHK global yang sebelumnya diumumkan Amazon pada Oktober lalu.
Pengurangan karyawan terjadi di berbagai divisi bisnis, mulai dari komputasi awan, perangkat, periklanan, ritel, hingga layanan kebutuhan sehari-hari.
Langkah tersebut menempatkan Amazon dalam daftar panjang perusahaan teknologi besar yang terus mengurangi tenaga kerja sejak 2022. Berdasarkan data Layoffs.fyi, lebih dari 113.000 PHK telah dilakukan oleh lebih dari 230 perusahaan teknologi sepanjang tahun ini.
CEO Amazon Andy Jassy menekankan bahwa perusahaan harus kembali bekerja layaknya “startup terbesar di dunia” untuk mempercepat inovasi dan memangkas birokrasi yang dinilai terlalu berlapis usai ledakan perekrutan pada masa pandemi. Proses efisiensi ini dianggap penting agar Amazon dapat bergerak lebih cepat dalam persaingan industri teknologi.
Meski demikian, Amazon mengklarifikasi bahwa PHK besar-besaran kali ini bukan semata akibat perkembangan AI. Perusahaan disebut tetap melakukan penataan ulang struktur organisasi, meski sebagian besar sumber daya kini digeser untuk memperkuat investasi pada teknologi kecerdasan buatan.
Jassy sebelumnya memprediksi bahwa peran AI akan membuat kebutuhan tenaga kerja Amazon terus menyusut dalam beberapa tahun mendatang seiring meningkatnya otomatisasi dan efisiensi operasional.
Hal ini sejalan dengan tren industri yang semakin mengadopsi asisten pemrograman berbasis AI seperti Cursor, OpenAI, dan Cognition. Amazon sendiri telah meluncurkan Kiro sebagai platform coding bertenaga AI untuk mendukung proses pengembangan internal.
Chief Human Resources Amazon, Beth Galetti, menuturkan bahwa kemampuan berinovasi menjadi fokus utama perusahaan. Menurutnya, teknologi AI generasi terbaru merupakan terobosan terbesar sejak internet karena kemampuannya mempercepat pengembangan produk dan menyederhanakan proses kerja.
Dampak PHK kali ini terutama dirasakan pada level engineer perangkat lunak tingkat menengah, seperti posisi SDE II. Kondisi tersebut diperkirakan menjadi bagian dari restrukturisasi besar Amazon menuju organisasi yang lebih efisien dan berorientasi pada teknologi AI.












