Rusia Evakuasi 198 Pekerja dari PLTN Bushehr di Iran


JurnalPatroliNews – Jakarta –  Rusia mulai mengevakuasi ratusan pekerjanya dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bushehr di Iran menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan. Langkah ini diambil tidak lama setelah proyektil yang dikaitkan dengan serangan Amerika Serikat dan Israel menghantam area di sekitar fasilitas tersebut.

Media pemerintah Rusia, TASS, melaporkan sebanyak 198 pekerja telah dipindahkan dalam gelombang terbaru evakuasi. Ini merupakan tahap ketiga dari proses pemindahan personel Rusia dari fasilitas yang dibangun dengan dukungan Moskow tersebut.

Kepala badan energi nuklir Rusia, Rosatom, Alexey Likhachev, menyatakan bahwa evakuasi dilakukan sesuai rencana darurat yang telah disiapkan.

“Sesuai rencana, kami memulai fase utama evakuasi hari ini,” ujar Likhachev, dikutip Minggu, 5 April 2026.

Ia menjelaskan, sekitar 20 menit setelah serangan terjadi, bus-bus langsung diberangkatkan dari Bushehr menuju perbatasan Iran-Armenia dengan membawa 198 pekerja. Evakuasi ini disebut sebagai yang terbesar sejak konflik meningkat.

Meski demikian, sekitar 100 staf Rusia dilaporkan masih berada di lokasi PLTN Bushehr. Wilayah di sekitar fasilitas tersebut juga telah menjadi sasaran serangan sebanyak empat kali selama perang berlangsung.

Likhachev menambahkan, pihaknya telah memberi tahu Amerika Serikat dan Israel terkait proses evakuasi tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa risiko kerusakan fasilitas hingga potensi insiden nuklir terus meningkat seiring perkembangan situasi di lapangan.

“Risiko kerusakan atau potensi insiden nuklir, sayangnya, justru semakin meningkat,” tegasnya.

Sementara itu, laporan dari pihak Iran menyebutkan serangan terbaru pada Sabtu, 4 April 2026, menyebabkan satu orang penjaga fasilitas tewas. Namun, tidak ada kerusakan yang dilaporkan pada instalasi utama pembangkit nuklir tersebut.

Evakuasi ini mencerminkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan pekerja dan keamanan fasilitas nuklir di tengah konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.