Trump Terima 10 Syarat Iran, Dinilai Kekalahan Terbesar AS Sejak Perang Vietnam


JurnalPatroliNewsWashington — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerima sepuluh syarat gencatan senjata dari Iran menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi dan pengamat politik internasional.

Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago, Robert Pape, menilai langkah tersebut sebagai kekalahan strategis besar bagi Washington, bahkan disebut sebagai yang paling signifikan sejak Perang Vietnam.

“Kekalahan strategis besar bagi AS, kerugian terbesar sejak Vietnam. Ini menunjukkan kebangkitan Iran sebagai pusat kekuatan dunia keempat yang sedang muncul,” ujar Pape dalam unggahannya di platform X, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, penerimaan terhadap syarat-syarat yang diajukan Teheran mencerminkan perubahan keseimbangan kekuatan global, di mana Iran kini semakin percaya diri dalam menentukan arah negosiasi.

Adapun sepuluh syarat perdamaian yang diajukan Iran mencakup berbagai aspek strategis, mulai dari jaminan keamanan hingga pengaturan jalur energi global. Iran menuntut adanya jaminan bahwa negaranya tidak akan kembali diserang, serta pengakhiran perang secara permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Selain itu, Iran juga meminta penghentian serangan Israel di Lebanon, pencabutan seluruh sanksi AS, serta penghentian konflik regional yang melibatkan sekutu-sekutunya.

Dalam sektor energi dan pelayaran, Iran menyatakan akan membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, namun dengan sejumlah ketentuan. Di antaranya adalah pemberlakuan biaya sebesar 2 juta dolar AS bagi setiap kapal yang melintas, yang nantinya akan dibagi dengan Oman.

Iran juga berencana menetapkan aturan jalur aman pelayaran di kawasan tersebut serta menggunakan pendapatan dari biaya lintasan untuk kepentingan rekonstruksi.

Keputusan Trump menerima syarat-syarat tersebut dinilai menjadi titik balik penting dalam dinamika geopolitik global. Sejumlah pihak menilai langkah itu sebagai upaya meredakan eskalasi konflik, namun di sisi lain juga dipandang sebagai sinyal melemahnya posisi tawar Amerika Serikat di hadapan kekuatan regional yang kian menguat.