Resmi! Gencatan Senjata AS-Iran Berlaku Segera, Termasuk Penghentian Konflik di Lebanon

JurnalPatroliNews – Jakarta – Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan pencapaian diplomatik bersejarah dalam upaya meredakan ketegangan di Timur Tengah.

Iran dan Amerika Serikat (AS) telah sepakat untuk melakukan pertemuan tatap muka di Islamabad, Pakistan, pada Jumat, 10 April 2026, guna membahas kesepakatan damai final.

Pengumuman ini menyusul keberhasilan Pakistan dalam memediasi kedua negara yang bertikai, yang berujung pada komitmen de-eskalasi militer secara signifikan di kawasan Teluk dan sekitarnya.

“Saya menyambut hangat langkah bijaksana ini dan menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pimpinan kedua negara. Saya mengundang delegasi mereka ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi guna mencapai kesepakatan final yang menyelesaikan semua sengketa,” ujar PM Sharif melalui akun X resminya, Rabu (8/4).

Gencatan Senjata Menyeluruh Termasuk Lebanon Salah satu poin krusial dalam kesepakatan ini adalah pemberlakuan gencatan senjata yang bersifat menyeluruh dan berlaku segera.

PM Sharif menegaskan bahwa penghentian kontak senjata ini tidak hanya terbatas pada wilayah Iran-AS, tetapi juga mencakup kawasan Lebanon, yang melibatkan sekutu-sekutu dari kedua belah pihak termasuk Israel.

“Saya mengumumkan bahwa Republik Islam Iran dan AS, termasuk sekutu-sekutu mereka, telah sepakat untuk gencatan senjata di mana pun, termasuk Lebanon, dan berlaku segera,” tegas Sharif.

Harapan ‘Dialog Islamabad’ Pertemuan yang dijuluki sebagai “Dialog Islamabad” ini diharapkan menjadi titik balik dalam membangun stabilitas kawasan secara konstruktif.

PM Sharif memuji sikap bijaksana dari kedua pemimpin negara yang memprioritaskan keamanan global di atas kepentingan sektoral.

“Kedua pihak terlibat untuk membangun perdamaian dan stabilitas secara konstruktif. Kami berharap Dialog Islamabad sukses membawa perdamaian yang berkelanjutan bagi dunia yang lebih baik,” pungkasnya.

Hingga saat ini, dunia internasional terus memantau persiapan pertemuan tersebut, yang diprediksi akan menjadi salah satu negosiasi paling menentukan dalam peta geopolitik modern tahun 2026.