Anies Baswedan Tekankan Peran Strategis Kampus dalam Membentuk Karakter Bangsa

JurnalPatroliNews – Bekasi – Universitas Paramadina menyelenggarakan talkshow bertajuk “Integritas Karakter, Kompetensi, dan Teknologi dalam Pendidikan di Indonesia” sebagai bagian dari rangkaian Open House Kampus Cikarang.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (1/4) di District 1 Meikarta, Bekasi, ini menghadirkan Anies Baswedan, Ph.D., sebagai pembicara utama.

Dalam pemaparannya, Anies menekankan bahwa perguruan tinggi mengemban tanggung jawab besar sebagai fase terakhir pembentukan manusia sebelum memasuki dunia otoritas.

Menurutnya, pendidikan tinggi tidak boleh hanya berhenti pada penguasaan keterampilan teknis, melainkan harus mampu melahirkan lulusan yang cakap sekaligus dapat dipercaya.

“Masalah kita bukan kekurangan orang pintar, tetapi sering kali membiarkan kecerdasan berjalan tanpa kompas moral. Universitas memiliki tanggung jawab mendidik seseorang untuk dapat dipercaya,” tegas Anies.

Trinitas Pendidikan: Karakter, Kompetensi, dan Teknologi Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menggarisbawahi tiga pilar utama yang harus menyatu dalam ekosistem pendidikan masa depan.

Ia merumuskan bahwa karakter berfungsi sebagai pemberi arah, kompetensi sebagai pemberi daya, dan teknologi berperan memberikan jangkauan.

Tanpa integritas karakter, kompetensi dan teknologi yang canggih justru berisiko digunakan untuk menyimpang atau mengakali aturan demi kepentingan sempit.

Anies juga menyoroti perubahan dunia kerja yang sangat cepat. Mengutip data World Economic Forum, ia mengingatkan bahwa sekitar 39 persen keterampilan kerja saat ini diprediksi akan usang pada tahun 2030. Oleh karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk fokus pada penguatan kompetensi inti (core competence) di luar aspek teknis.

“Minimal ada dua kompetensi inti yang harus dimiliki: critical thinking dan analytical thinking. Selain itu, kemampuan belajar ulang (learning skill) sangat penting agar lulusan tidak gagap menghadapi perubahan kurikulum yang sering kali kalah cepat dengan realitas industri,” jelasnya.

Digitalisasi sebagai Instrumen Integritas Terkait peran teknologi, Anies melihat digitalisasi bukan sekadar alat efisiensi, melainkan instrumen untuk membangun kejernihan dan integritas sistem.

Dengan adanya jejak digital, proses pengambilan keputusan menjadi lebih transparan dan konsisten. Hal ini dianggap sebagai cara efektif untuk menghilangkan “ruang gelap” yang sering menjadi celah terjadinya penyimpangan.

Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan budaya meritokrasi di lingkungan kampus. Mahasiswa harus merasakan secara langsung bahwa prestasi dan kinerja, baik akademik maupun non-akademik, adalah satu-satunya jalan menuju posisi dan promosi.

Menutup sesinya, Anies mengibaratkan ekosistem kampus sebagai lahan pertumbuhan. Menurutnya, pribadi yang baik ibarat benih unggul yang memerlukan tanah subur dan iklim sehat agar bisa tumbuh menjadi individu yang bermanfaat luas bagi masyarakat.

Ia berharap Universitas Paramadina terus menjaga tradisi sebagai ruang perjumpaan reflektif yang melahirkan pemikiran-pemikiran besar bagi bangsa.