JurnalPatroliNews – JAKARTA — Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menilai Paus Leo XIV lemah dalam menghadapi kriminalitas serta buruk dalam kebijakan luar negeri menuai kritik dari kalangan organisasi kepemudaan Katolik di Indonesia.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, menilai pernyataan tersebut tidak tepat dan lebih mencerminkan perbedaan sudut pandang ketimbang penilaian objektif terhadap kapasitas kepemimpinan Paus.
“Paus Leo XIV justru menunjukkan kepemimpinan yang relevan dengan tantangan dunia modern. Dalam menghadapi kriminalitas, beliau tidak memilih pendekatan instan berupa hukuman semata, melainkan menyoroti akar persoalan seperti ketimpangan sosial, kemiskinan, dan budaya kekerasan,” ujar Gusma dalam keterangan resminya, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, pendekatan yang diambil Paus lebih berorientasi pada solusi jangka panjang dan berkelanjutan, berbeda dengan pendekatan represif yang kerap diutamakan dalam perspektif keamanan konvensional.
Gusma juga menyoroti kritik Trump terkait kebijakan luar negeri Vatikan yang dinilai lemah. Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak memiliki dasar kuat, mengingat peran Vatikan selama ini lebih mengedepankan diplomasi moral dan perdamaian global.
“Menilai kebijakan luar negeri Paus dengan standar kekuatan militer adalah keliru. Paus Leo XIV melanjutkan tradisi diplomasi damai dengan menyerukan deeskalasi konflik dan perlindungan kemanusiaan,” tegasnya.
Ia menambahkan, dalam banyak konflik internasional, pendekatan dialog dan diplomasi yang diusung Vatikan justru kerap menjadi alternatif solusi ketika pendekatan militer tidak mampu menyelesaikan persoalan.
Pernyataan ini mencerminkan adanya perbedaan mendasar dalam memandang kepemimpinan global, khususnya antara pendekatan kekuatan keras (hard power) dan kekuatan moral (soft power) dalam menjaga stabilitas dunia.














