JurnalPatroliNews – Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan apresiasi tertinggi kepada Mukhlisin (41), seorang petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) asal Penjaringan, Jakarta Utara.
Mukhlisin diberangkatkan umrah karena dedikasinya dalam menunjukkan kerja nyata di lapangan, kontras dengan fenomena laporan visual fiktif yang belakangan menjadi sorotan.
Hadiah istimewa tersebut diserahkan langsung oleh Pramono saat mengumpulkan ribuan petugas PPSU se-Jakarta dalam acara pengarahan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (16/4).
Momen haru terjadi saat Pramono memanggil Mukhlisin ke atas panggung. “Sudah pernah umrah belum?” tanya Pramono. Setelah Mukhlisin menjawab belum pernah, Gubernur langsung menegaskan, “Pak Mukhlisin bisa berangkat umrah,” yang seketika disambut tepuk tangan riuh dan suasana emosional dari rekan-rekan sejawatnya.
Teladan Kerja Responsif Pramono menyatakan bahwa Mukhlisin merupakan representasi petugas yang bekerja dengan hati dan responsif terhadap aduan masyarakat. Menurutnya, inisiatif cepat yang dilakukan Mukhlisin di lapangan memicu apresiasi publik yang luar biasa.
“Inisiatif yang dilakukan direspons dengan cepat. Inilah yang kemudian mendapatkan apresiasi publik yang luar biasa. Saya betul-betul ingin menyampaikan apresiasi. Terima kasih, matur nuwun,” ungkap Pramono Anung.
Bantah Stigma dengan Aksi Dalam sebuah perbincangan, Mukhlisin menceritakan bahwa perjalanannya hingga ke Balai Kota bermula dari unggahan sederhana di media sosial pribadi miliknya. Ia tidak menyangka konten yang memperlihatkan aktivitas kerjanya akan menarik perhatian Gubernur.
Bagi Mukhlisin, menggunakan media sosial bukan sekadar tren, melainkan misi untuk membantah stigma negatif sebagian warga yang menganggap PPSU hanya sekadar “foto lalu pergi”.
“Sebenarnya bukan tugas saya untuk posting di media sosial. Tapi saya ingin membuktikan kepada masyarakat kalau PPSU itu benar-benar bekerja,” ujar Mukhlisin.
Langkah Mukhlisin ini dinilai menjadi oase di tengah isu laporan kerja fiktif berbasis rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang sempat mencuat di wilayah Kalisari, Jakarta Timur.
Dengan kejujuran dan hasil kerja yang autentik, Mukhlisin membuktikan bahwa integritas di lapangan jauh lebih berharga daripada rekayasa digital di layar ponsel.














