JurnalPatroliNews – WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik keras terhadap aliansi militer NATO. Ia menegaskan bahwa Washington tidak membutuhkan bantuan NATO dalam menghadapi dinamika keamanan di Selat Hormuz.
Melalui unggahan di platform X pada Sabtu (18/4/2026), Trump bahkan menyebut NATO tidak efektif saat benar-benar dibutuhkan.
“Sekarang setelah situasi di Selat Hormuz berakhir, saya menerima panggilan dari NATO yang menanyakan apakah kami membutuhkan bantuan,” tulisnya.
Ia melanjutkan dengan nada tajam, “Saya mengatakan kepada mereka untuk menjauh, kecuali hanya ingin mengisi kapal dengan minyak. Mereka tidak berguna saat dibutuhkan, seperti macan kertas.”
Pernyataan tersebut muncul di tengah perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali terbuka sepenuhnya untuk pelayaran komersial, seiring adanya gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump memang berulang kali mengkritik negara-negara anggota NATO, khususnya di Eropa, yang dinilainya kurang berkontribusi dalam merespons konflik yang melibatkan Iran. Ia bahkan sempat memberi sinyal kemungkinan Amerika Serikat meninjau kembali keanggotaannya dalam aliansi tersebut.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa mulai mengambil inisiatif sendiri. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, bersama Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menggelar pertemuan di Paris guna membahas keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk.
Kedua pemimpin tersebut disebut tengah mendorong pembentukan misi multinasional untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi global.
Ketegangan ini turut memengaruhi hubungan bilateral Amerika Serikat dengan sekutu-sekutunya. Trump sebelumnya juga melontarkan kritik terhadap Starmer, yang disebutnya sebagai sekutu yang “hanya setia saat kondisi menguntungkan”, serta mengisyaratkan kemungkinan peninjauan ulang kesepakatan perdagangan antara AS dan Inggris.
Situasi ini menandai meningkatnya friksi antara Washington dan sekutu tradisionalnya di Eropa, di tengah ketidakpastian keamanan kawasan Timur Tengah yang masih berlangsung.














