Buntut Perusakan Patung Yesus di Lebanon Selatan, 8 Tentara Israel Jalani Sanksi Militer

JurnalPatroliNews – Jakarta – Militer Israel (IDF) secara resmi mengakui keterlibatan personelnya dalam aksi perusakan patung Yesus di Desa Debel, Lebanon Selatan. Berdasarkan hasil investigasi internal, sebanyak delapan tentara terbukti terlibat dalam insiden yang memicu kecaman luas tersebut.

Melalui pernyataan di akun X resminya, pihak IDF merinci peran masing-masing personel dalam peristiwa yang mencederai nilai-nilai religius tersebut.

“Dari hasil penyelidikan, ditemukan seorang tentara IDF merusak simbol religius Kristiani tersebut, sementara seorang lainnya mengambil dokumentasi foto.

Enam tentara lainnya berada di lokasi namun tidak mengambil langkah apa pun untuk menghentikan aksi itu maupun melaporkannya,” tulis pernyataan resmi @IDF pada Selasa (21/4).

Pihak militer menegaskan bahwa insiden ini merupakan pelanggaran serius terhadap prosedur operasi. Mereka menekankan bahwa misi di Lebanon Selatan seharusnya difokuskan pada target militer Hizbullah, bukan pada penduduk sipil maupun simbol keagamaan.

Sebagai konsekuensi, hukuman disiplin langsung dijatuhkan kepada para pelaku utama. “Tentara yang merusak patung dan yang mengambil gambar telah dinonaktifkan dan dijatuhi hukuman 30 hari di tahanan militer,” tegas IDF.

Adapun enam tentara lainnya yang membiarkan kejadian tersebut masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan nasib kedinasan mereka.

Tindakan Restorasi dan Kecaman Internal

Pasca-insiden tersebut, militer Israel dilaporkan telah berkoordinasi dengan penduduk lokal untuk memperbaiki kerusakan pada patung Yesus tersebut. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas tindakan indisipliner pasukannya.

Insiden ini juga menuai kritik tajam dari jajaran perwira tinggi militer Israel. Kepala Staf Jenderal Umum secara terbuka mengecam tindakan bawahannya tersebut.

“Tindakan ini sama sekali tidak dapat diterima dan merupakan bentuk kecacatan moral yang berada di bawah standar militer kami. Hal ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh IDF,” pungkas pernyataan tersebut.