JurnalPatroliNews – Jakarta – Iran dilaporkan mengajukan proposal perdamaian baru yang berisi 14 syarat kepada Amerika Serikat (AS) sebagai jalan untuk mengakhiri perang secara permanen. Proposal tersebut disebut sebagai respons langsung atas tawaran sembilan poin yang sebelumnya diajukan Washington.
Laporan itu disampaikan Fars News Agency pada Minggu, 3 Mei 2026. Dalam dokumen tersebut, Teheran menegaskan bahwa penyelesaian konflik harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya melalui gencatan senjata sementara.
Proposal itu disebut memuat peta jalan yang jelas untuk mengakhiri perang sekaligus menetapkan garis merah Iran dalam setiap kemungkinan kesepakatan diplomatik.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharib Abadi, mengatakan dokumen resmi tersebut telah disampaikan kepada Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam proses komunikasi kedua negara.
“Sekarang bola berada di tangan Amerika,” ujar Kazem, seraya menegaskan bahwa Iran masih meragukan kesungguhan AS dalam menjalankan jalur diplomasi.
Tasnim News Agency turut mengonfirmasi bahwa proposal 14 poin tersebut berfokus pada penghentian perang secara total. Iran menolak konsep gencatan senjata jangka pendek yang sebelumnya ditawarkan AS.
Menurut laporan itu, proposal Washington hanya menawarkan penghentian konflik selama dua bulan. Namun, Iran menilai seluruh persoalan utama harus diselesaikan dalam waktu maksimal 30 hari agar tercipta perdamaian yang permanen.
Dalam proposalnya, Iran menuntut sejumlah poin penting, antara lain jaminan tidak adanya aksi militer di masa depan, penarikan pasukan AS dari kawasan sekitar Iran, pencabutan blokade maritim, hingga pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Selain itu, Teheran juga meminta pembayaran kompensasi atas dampak perang, penghentian seluruh bentuk permusuhan di berbagai front termasuk Lebanon, serta pembentukan kerangka baru dalam pengelolaan Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu titik paling strategis dalam konflik ini karena merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut telah memicu gejolak besar pada pasar energi global.
Langkah Iran ini dinilai menjadi sinyal bahwa Teheran membuka ruang diplomasi, namun tetap dengan syarat yang ketat dan tidak dapat dinegosiasikan begitu saja. Kini, perhatian dunia tertuju pada respons Washington terhadap proposal tersebut.














