JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Asian Development Bank (ADB), Masato Kanda, menyampaikan peringatan serius terkait prospek ekonomi Asia-Pasifik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Dalam Pertemuan Tahunan ke-59 ADB di Samarkand, Uzbekistan, ia menilai lonjakan harga minyak akibat konflik internasional berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan.
Jika situasi geopolitik terus memburuk dan memicu kenaikan tajam harga energi, pertumbuhan ekonomi Asia-Pasifik diperkirakan bisa turun hingga 4,2 persen pada 2026.
Skenario terburuk tersebut juga dibayangi ancaman inflasi yang melonjak hingga 7,4 persen pada tahun depan, jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi 3,0 persen pada 2025.
Bahkan dalam kondisi yang lebih stabil sekalipun, ekonomi kawasan diprediksi tetap mengalami perlambatan ke level 4,7 persen pada tahun ini. Tekanan harga energi serta ketatnya kondisi keuangan global menjadi faktor utama yang membebani pemulihan ekonomi.
Menghadapi tantangan tersebut, ADB meluncurkan program ketahanan regional senilai 70 miliar dolar AS sebagai upaya memperkuat fondasi ekonomi kawasan.
Program tersebut terdiri dari dua fokus utama. Pertama, sebesar 50 miliar dolar AS dialokasikan untuk pembangunan jaringan listrik Pan-Asia. Proyek ini bertujuan mengintegrasikan energi terbarukan lintas negara guna memperkuat ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon.
Kedua, sebesar 20 miliar dolar AS disiapkan untuk pengembangan konektivitas digital. Dana ini difokuskan untuk mengurangi kesenjangan digital dan memperkuat jaringan komunikasi di seluruh kawasan Asia-Pasifik.
Di tengah meningkatnya fragmentasi politik dan krisis lingkungan, Masato Kanda menegaskan bahwa ADB harus tetap menjadi penopang stabilitas regional. Sepanjang 2025, lembaga tersebut telah menyalurkan dukungan finansial sebesar 29,3 miliar dolar AS kepada berbagai negara anggota.
Ia juga menilai pendekatan konvensional tidak lagi cukup untuk menghadapi tantangan global saat ini. Menurutnya, dunia membutuhkan sistem yang lebih terhubung, adaptif, dan tangguh.
“Tugas di depan memang berat, tetapi dengan sumber daya dan tekad bersama, kita punya strategi yang jelas untuk melaluinya,” ujar Masato Kanda seperti dikutip dari Reuters, Selasa (5/5/2026).














