JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku geram atas tudingan yang menyebut kebijakan fiskal pemerintah menjadi penyebab melemahnya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat.
Menurutnya, anggapan tersebut tidak tepat dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dari pengelolaan fiskal nasional yang justru dinilai tetap kuat dan terkendali.
“Saya sebel sama yang bilang gara-gara fiskal rupiah jeblok,” kata Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Purbaya menjelaskan, pemerintah justru berhasil mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara lebih efektif dibanding sebelumnya.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah memindahkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke sektor perbankan guna mendorong perputaran ekonomi tanpa harus menambah beban belanja negara secara berlebihan.
“Kamu tahu kenapa ekonomi bisa tumbuh lebih cepat? Kita manage uang lebih bagus. Jangan cuma pindahin cash aja dari BI ke situ, ekonomi tumbuh lebih cepat dan kita jaga itu. Tapi uangnya masih punya saya kan?” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tanpa harus melakukan pengeluaran tambahan yang berisiko membebani fiskal negara.
Menurutnya, keberhasilan menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan kekuatan fiskal menjadi salah satu capaian penting pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Artinya apa? Saya, kita, pemerintah Pak Prabowo bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat tanpa pengeluaran uang tambahan. Uangnya masih utuh, itu ajaib sebetulnya,” tuturnya.
Purbaya menilai kritik terhadap kebijakan fiskal pemerintah tidak tepat sasaran dan menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap strategi yang sedang dijalankan pemerintah.
“Jadi yang kritik kebijakan fiskal kita aneh, dia enggak mengerti apa yang kita kerjakan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan nilai tukar rupiah berada dalam kewenangan otoritas moneter, yakni Bank Indonesia, bukan sepenuhnya berada di ranah kebijakan fiskal Kementerian Keuangan.
“Rupiah tanya ke bank sentral,” tandasnya.
Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan, menjadi angka tertinggi sejak pandemi Covid-19.
Sebelumnya, kritik mengenai melemahnya rupiah akibat keraguan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia disampaikan Guru Besar sekaligus pakar ekonomi Universitas Airlangga, Rahma Gafmi.
Menurut Rahma, dari sisi kebijakan moneter, langkah yang diambil otoritas dinilai sudah tepat dan intervensi tidak bisa dilakukan terus-menerus karena berpotensi menggerus cadangan devisa.
“Terkait rupiah yang semakin tertekan, semua ekonom sepakat ini karena ketidakpercayaan investor terhadap fiskal kita,” ujar Rahma Gafmi dalam pernyataan tertulis, Selasa (5/5/2026).












