Viral! Kini Bayar Pajak Bisa Pakai Sampah Plastik, Begini Kata Zan Zan

JurnalPatroliNews | Buleleng – Persoalan sampah plastik di Bali kini mulai diarahkan menjadi sumber nilai ekonomi. Di tengah meningkatnya persoalan lingkungan, muncul gagasan agar sampah non-organik tidak lagi berakhir di sungai atau tempat pembuangan liar, tetapi dimanfaatkan untuk membantu pembayaran pajak masyarakat.

Gagasan itu mencuat dalam dialog antara siswi SMK Negeri 1 Kubutambahan, Komang Fairnees Stri Ratna, dengan owner Omunity Bali, Ketut Zan Zan.

Dalam dialog tersebut, Komang menyoroti program pemerintah yang mengaitkan pengelolaan sampah dengan pembayaran pajak daerah.

“Sekarang kan saya dengar-dengar ada program dari pemerintah yaitu dari pengelolaan sampah kita bisa membayar pajak. Jadi bagaimana menurut kamu tentang program ini?” tanyanya.

Menjawab hal itu, Ketut Zan Zan menyebut langkah tersebut sebagai gebrakan baru yang dinilai berani sekaligus realistis melihat kondisi di lapangan.

“Wah, ini satu gebrakan baru ini berarti kalau begitu. Jadi kita mempunyai bupati yang smart melihat apa namanya apa yang terjadi di lapangan. Eee ini berkaitan juga mungkin biar bisa meningkatkan pembayaran pajaknya lebih optimal ya. Jadi dia ngelihat peluang nih,” ujarnya.

Menurutnya, program tersebut membuka cara pandang baru bahwa sampah plastik bukan lagi sekadar limbah, tetapi memiliki nilai ekonomi jika dikumpulkan secara disiplin.

“Bayangkan. Jika kita rajin mengumpulkan plastik atau semua yang non-organik itu dan kita kumpulkan itu jadi uang. Nah, seolah-olah itu yang kita pakai bayar pajak sekarang. Sehingga plastik-plastik enggak bakalan ada di luar lagi kelihatan. Karena apa? Karena plastik ini akan dipakai untuk membayar pajak itu sendiri,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mulai membiasakan memilah dan menyimpan sampah plastik dari rumah tangga. Menurutnya, langkah sederhana itu bisa berdampak besar terhadap kebersihan lingkungan sekaligus membantu pembangunan daerah.

“Taruh plastik mulai sekarang di rumah sebesar apapun nanti suatu saat kita kumpulkan berapa value-nya sudah nanti kita kita pakai bayar pajak. Dan memang harus, kita harus jadi masyarakat harus rajin disiplin bayar pajak ya, untuk menyupport bangunan pembangunan-pembangunan yang ada di daerah kita sendiri,” ucapnya.

Ketut Zan Zan menegaskan, pajak yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya kembali untuk pembangunan fasilitas umum yang dipakai bersama. Karena itu, pengelolaan sampah dan kesadaran membayar pajak dinilai bisa berjalan seiring.

Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di Bali, ide mengubah plastik menjadi alat bantu pembayaran pajak dinilai bukan sekadar wacana lingkungan. Program itu mulai dilihat sebagai cara baru mendorong masyarakat lebih disiplin menjaga kebersihan sekaligus ikut membiayai pembangunan daerahnya sendiri

(Sarjana)