JurnalPatroliNews – JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengklaim telah mengerahkan seluruh instrumen yang dimiliki untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global yang terus berlanjut.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyebut tujuh langkah strategis yang ditempuh BI merupakan upaya “all out” untuk menahan gejolak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
“Dari tujuh langkah itu adalah langkah-langkah yang all out,” kata Perry.
Salah satu langkah utama yang dilakukan BI adalah intervensi besar-besaran di pasar valuta asing. Kebijakan ini berdampak pada posisi cadangan devisa nasional yang kini berada di level 148,2 miliar dolar AS.
Meski mengalami penurunan, Perry menegaskan jumlah tersebut masih lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Tapi 148,2 miliar dolar AS itu lebih dari cukup. Kami ukur kebutuhan-kebutuhan untuk intervensi. Tolong diingat, cadangan devisa itu dikumpulkan pada saat panen inflow besar, makanya kita gunakan pada saat paceklik, pada saat outflow,” jelasnya.
Menurut Perry, intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga secara agresif di pasar luar negeri melalui instrumen non-deliverable forward (NDF).
Ia menyebut BI melakukan intervensi hampir tanpa henti di sejumlah pusat keuangan global seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York.
“Kami itu intervensi di pasar luar negeri, offshore, NDF. Hong Kong kami intervensi, Singapura kami intervensi, London kami intervensi, New York kami intervensi. Itu namanya bukan business as usual, itu all out, itu intervensi,” tegasnya.
Selain intervensi valas, BI bersama KSSK juga mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menahan arus modal asing keluar dari pasar saham dan surat berharga negara (SBN).
Sepanjang tahun berjalan, arus masuk dana asing melalui SRBI tercatat mencapai Rp78,1 triliun. Sementara itu, pasar saham masih mencatat arus keluar sebesar Rp38,6 triliun dan pasar SBN mengalami outflow Rp11,7 triliun secara year to date, meskipun dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan tren inflow kembali.
Untuk memperkuat langkah stabilisasi, BI juga telah menunjuk sejumlah bank domestik, baik dari kelompok Himbara maupun perbankan swasta, untuk ikut melakukan transaksi NDF di pasar offshore.
“Kita telah menunjuk bank-bank domestik untuk juga ikut jualan NDF di luar negeri melalui pendalaman pasar uang. Tidak hanya bank-bank Himbara, juga bank-bank swasta lainnya yang sudah diumumkan dalam laman Bank Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, Perry menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kondisi undervalue atau belum mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Sebagai informasi, rupiah pada pekan ini sempat menyentuh level terendah di atas Rp17.400 per dolar AS sebelum kembali menguat ke kisaran Rp17.333 per dolar AS.
“Jadi tujuh langkah strategi itu langkah yang all out, tapi kita sepakat semua ini secara fundamental rupiah itu undervalue,” tandas Perry.











