Waspada Hantavirus dari Tikus, Kenali Gejala dan Cara Mencegah Penularannya


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Wabah hantavirus yang dilaporkan terjadi di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026 memicu perhatian publik. Dalam insiden tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah penumpang lainnya berada dalam kondisi kritis.

Kasus itu membuat masyarakat mulai mewaspadai virus Hanta, yakni kelompok virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus. Meski tergolong jarang, infeksi hantavirus dapat menyebabkan penyakit serius hingga kematian jika tidak segera ditangani.

Penularan umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus yang berasal dari urin, feses, maupun air liur tikus, terutama di ruang tertutup. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka pada kulit, meskipun kasus ini lebih jarang dibandingkan penularan melalui udara.

Sudah Lama Ada di Indonesia

Mengacu pada data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia. Virus ini bahkan telah terdeteksi sejak era 1980-an.

Sejumlah penelitian di kota-kota besar menunjukkan seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun tidak selalu terdiagnosis secara medis.

Dalam tiga tahun terakhir, tercatat sedikitnya 23 kasus hantavirus dan tiga kematian di sembilan provinsi di Indonesia. Seluruh kasus tersebut terkonfirmasi sebagai jenis Seoul virus, bukan Andes virus seperti yang ditemukan pada kasus di kapal pesiar MV Hondius.

Kasus Seoul virus paling banyak teridentifikasi pada 2025 dengan total 17 kasus, sementara pada 2024 hanya satu kasus yang tercatat. Pada 2026, sudah terdapat lima kasus Seoul virus hantavirus di Indonesia.

Sementara itu, Kemenkes memastikan hingga saat ini virus Andes yang ditemukan di kapal pesiar belum menyebar ke Indonesia.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diagnosis awal hantavirus sering kali sulit dilakukan karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, hingga sepsis.

Secara umum, terdapat dua sindrom utama akibat hantavirus:

1. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

Gejala awal HFRS meliputi sakit kepala berat, nyeri punggung dan perut, demam, menggigil, mual, hingga penglihatan kabur. Pada beberapa kasus, penderita juga mengalami wajah kemerahan, mata merah, peradangan, hingga ruam pada kulit.

Jika memburuk, pasien dapat mengalami tekanan darah rendah, syok akut, pecahnya pembuluh darah, hingga gangguan ginjal akut yang membutuhkan penanganan medis segera.

2. Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS)

Penderita HCPS biasanya mengalami kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama di bagian paha, pinggul, punggung, dan bahu.

Sekitar empat hingga 10 hari setelah gejala awal muncul, kondisi dapat memburuk dengan munculnya batuk dan sesak napas akibat paru-paru terisi cairan. Kondisi ini sangat berbahaya dan membutuhkan penanganan medis darurat.

Cara Penularan

Hantavirus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, atau air liur tikus. Penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan pengerat, luka terbuka pada kulit, maupun permukaan yang telah terkontaminasi.

Penularan paling sering terjadi melalui aerosolized excreta rodensia, yakni partikel halus dari kotoran atau cairan tikus yang bercampur di udara lalu terhirup manusia.

Artinya, seseorang tidak harus digigit tikus untuk tertular hantavirus.

Risiko meningkat ketika seseorang berada di lingkungan dengan banyak tikus, terutama ruangan tertutup, lembap, atau jarang dibersihkan seperti gudang, loteng, ruang penyimpanan, hingga bangunan kosong.

Cara Mencegah Hantavirus

WHO menyebut langkah utama pencegahan adalah mengurangi kontak manusia dengan tikus dan menjaga kebersihan lingkungan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Membersihkan rumah dan tempat kerja secara rutin
  2. Menutup celah atau lubang yang memungkinkan tikus masuk
  3. Menyimpan makanan di tempat tertutup rapat
  4. Menggunakan metode pembersihan aman di area yang terkontaminasi
  5. Tidak menyapu atau menggunakan vacuum cleaner pada kotoran tikus yang kering
  6. Membasahi area terkontaminasi sebelum dibersihkan agar debu tidak beterbangan
  7. Mencuci tangan setelah membersihkan area berisiko atau setelah kontak dengan benda yang mungkin terkontaminasi

Masyarakat juga dianjurkan memakai masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang diduga terdapat kotoran tikus guna meminimalkan risiko penularan.