JurnalPatroliNews – Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global mendapat perhatian dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Menurutnya, depresiasi mata uang bukan hanya dialami rupiah, tetapi juga terjadi pada sejumlah mata uang utama dunia, termasuk yen Jepang dan dolar Amerika Serikat.
Melalui akun media sosial X pada Senin, 11 Mei 2026, Susi menyampaikan pandangannya terkait dinamika kurs global yang menurutnya perlu dilihat secara lebih luas dan tidak semata-mata berfokus pada pelemahan rupiah.
“Sebetulnya dari pengamatan saya sebagai orang awam enam bulan terakhir mata uang yang terdepresiasi bukan hanya rupiah, yen juga up and down cukup signifikan. USD sendiri terdepresiasi terhadap mata uang lainnya cukup dalam,” tulis Susi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran sejumlah pelaku pasar dan ekonom yang memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Tekanan tersebut dipicu oleh ketidakpastian global akibat meningkatnya konflik geopolitik internasional, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan gangguan jalur perdagangan dunia yang berdampak pada stabilitas pasar keuangan.
Selain memengaruhi nilai tukar rupiah, kondisi tersebut juga dinilai dapat memberi tekanan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta sentimen investor di pasar modal domestik.
Namun, Susi menilai kondisi ekonomi nasional tidak seharusnya hanya diukur dari fluktuasi kurs mata uang. Menurutnya, pemerintah juga harus lebih fokus pada persoalan yang langsung dirasakan masyarakat kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyoroti maraknya praktik judi online dan pinjaman online ilegal yang dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena secara langsung menguras kondisi keuangan masyarakat lapisan bawah.
“Yang lebih mengkhawatirkan menurut pandangan saya judol dan pinjol yang marak menyedot banyak uang masyarakat kecil,” tandasnya.
Susi menegaskan, stabilitas ekonomi masyarakat harus menjadi perhatian utama pemerintah, terutama dalam menjaga daya beli dan melindungi kelompok rentan dari tekanan ekonomi yang semakin kompleks.
Pernyataan tersebut menambah perspektif dalam diskusi publik mengenai pelemahan rupiah, bahwa tantangan ekonomi nasional tidak hanya soal nilai tukar, tetapi juga menyangkut persoalan sosial-ekonomi yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.












