JurnalPatroliNews – Jakarta – Kasus dugaan keracunan massal usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kali ini, sebanyak 252 siswa sekolah dasar di kawasan Cakung, Jakarta Timur, dilaporkan mengalami gejala mual dan pusing setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Menanggapi insiden itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan penanganan terhadap para siswa yang terdampak telah dilakukan. Ia menyebut pemerintah daerah telah bergerak cepat untuk memberikan layanan kesehatan kepada para siswa.
“Yang MBG sudah tertangani. Nanti Kepala Dinas Pendidikan yang akan menyampaikan,” ujar Pramono, Senin, 11 Mei 2026.
Dari total 252 siswa yang mengalami gejala, sebanyak 188 siswa telah mengakses fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Sementara itu, 26 siswa dilaporkan masih menjalani perawatan intensif.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini masih terus memantau kondisi para siswa untuk memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan yang optimal dan dapat segera pulih.
Dugaan sementara, gejala keracunan dipicu oleh makanan berupa pangsit isi tahu yang disajikan dalam menu MBG. Beberapa siswa disebut mengeluhkan rasa masam pada makanan tersebut saat dikonsumsi.
Temuan itu menjadi dasar awal penyelidikan terhadap kemungkinan adanya gangguan kualitas makanan dalam proses distribusi program makan gratis tersebut.
Meski demikian, pemerintah belum menetapkan penyebab pasti insiden tersebut karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para siswa.
Hasil uji laboratorium diperkirakan baru akan keluar paling cepat pada Selasa pekan depan. Pemeriksaan tersebut akan menjadi penentu apakah insiden tersebut benar-benar disebabkan oleh kontaminasi makanan atau faktor lainnya.
Kasus ini menambah perhatian terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah dalam mendukung pemenuhan gizi anak sekolah.
Pemerintah daerah bersama dinas terkait diharapkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi dan pengawasan kualitas makanan agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sementara itu, orang tua siswa dan pihak sekolah diminta tetap tenang sambil menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium serta memastikan anak-anak tetap mendapatkan pemantauan kesehatan secara berkala.












