BUMN Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Fondasi Baru Era Prabowo


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen dinilai menjadi sinyal kuat bahwa fondasi ekonomi nasional mulai bergerak lebih kokoh di tengah ancaman perlambatan global.

Di saat banyak negara masih dibayangi ketidakpastian ekonomi internasional, capaian tersebut dianggap sebagai hasil dari keberanian pemerintah dalam merombak tata kelola perusahaan negara, khususnya melalui pembentukan Badan Pengelola (BP) BUMN dan Danantara di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Pembentukan BP BUMN dan Danantara disebut bukan sekadar reorganisasi kelembagaan, melainkan langkah strategis untuk mengubah wajah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi lebih profesional, efisien, dan berorientasi pada penciptaan nilai bagi negara.

Selama ini, BUMN kerap dipandang sebagai entitas besar yang lamban, sarat birokrasi, dan kehilangan fokus bisnis. Namun, melalui pemisahan peran regulator dan operator, perusahaan-perusahaan negara kini dinilai memiliki ruang gerak yang lebih lincah dalam menjalankan fungsi bisnis sekaligus mendukung pembangunan nasional.

Langkah tersebut dinilai menjadi salah satu kebijakan paling fundamental dalam arsitektur ekonomi nasional. Dengan sistem pengelolaan baru, BUMN tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan berada dalam satu komando strategis yang terintegrasi.

Efektivitas kebijakan itu mulai terlihat dari kinerja perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Pada kuartal I 2026, rata-rata laba bersih bank-bank BUMN tercatat tumbuh 12,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Tak hanya itu, penyaluran kredit juga meningkat 11,8 persen dengan fokus utama pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta hilirisasi industri, dua sektor yang menjadi tulang punggung kedaulatan ekonomi nasional.

Dalam tiga bulan pertama tahun ini, sinergi antar-BUMN juga disebut telah menyumbang penerimaan negara melalui pajak, dividen, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp120 triliun hingga Rp135 triliun.

Kontribusi tersebut dinilai sangat penting dalam menjaga ruang fiskal pemerintah agar tetap kuat di tengah tekanan ekonomi global.

Pergerakan sektor perbankan dan investasi yang berada dalam ekosistem Danantara turut mendorong aktivitas ekonomi domestik. Kredit yang mengalir lebih agresif dinilai membantu UMKM naik kelas sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Sementara itu, BUMN pangan seperti Bulog dan ID FOOD berperan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, sehingga konsumsi rumah tangga tetap tumbuh di level 5,05 persen.

Capaian ini juga dipandang sebagai sinyal positif bagi investor asing bahwa Indonesia menawarkan ekosistem investasi yang semakin profesional dan terkelola dengan baik.

Meski demikian, pertumbuhan 5,61 persen dinilai belum menjadi tujuan akhir. Pemerintah masih membidik target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sebagai visi jangka panjang pembangunan nasional.

Namun, keberhasilan reformasi tata kelola BUMN melalui BP BUMN dan Danantara disebut telah menjadi pijakan penting menuju target tersebut.

BUMN kini diposisikan tidak hanya sebagai agen pembangunan, tetapi juga sebagai pencipta nilai (value creator) yang mampu memperkuat daya saing nasional di tengah persaingan global.

Dengan fondasi baru tersebut, pemerintah optimistis perusahaan-perusahaan negara dapat menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing internasional.