JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan penyesalan mendalam atas adanya sejumlah pejabat, termasuk orang-orang yang pernah dekat dengannya, yang nekat menyelewengkan uang rakyat.
Padahal, para pejabat tersebut telah diberikan kehormatan besar serta dibina dengan baik untuk mengemban jabatan penting di pemerintahan.
Dalam sebuah acara, Presiden Prabowo membagikan cerita saat dirinya menerima laporan krusial dari Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Muhammad Yusuf Ateh.
Menurut presiden, Kepala BPKP tampak menunjukkan gestur gemetar dan stres saat hendak menyampaikan dugaan kasus penyelewengan anggaran negara tersebut.
Setelah ditelusuri, ketakutan Kepala BPKP muncul karena oknum pejabat yang terindikasi melakukan penyimpangan tersebut dikenal memiliki hubungan kedekatan dengan presiden.
Kedatangan Kepala BPKP ke istana adalah untuk meminta petunjuk serta kepastian apakah pemeriksaan dan penelusuran kasus tersebut boleh dilanjutkan atau tidak.
Tak Ada Perlakuan Khusus Bagi Orang Dekat Mendengar laporan dan kekhawatiran dari Yusuf Ateh, Presiden Prabowo langsung memberikan instruksi yang sangat tegas. Ia memerintahkan BPKP untuk mengabaikan faktor kedekatan personal dan tetap memproses seluruh temuan hukum yang ada sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.
Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah memberikan perlakuan khusus atau perlindungan kepada siapa pun yang terbukti mencuri uang rakyat.
Ia mengingatkan kepada seluruh pejabat agar tidak bersikap adigang adigung adiguna atau merasa kebal hukum hanya karena memiliki akses atau kedekatan khusus dengan kepala negara.
Gunakan Sistem Digital, Presiden Ingatkan Pelaku Pasti Ketahuan Di sisi lain, mantan Menteri Pertahanan ini juga mengaku heran mengapa di era modern seperti sekarang masih ada pihak atau oknum aparat yang berani melakukan tindakan korupsi.
Menurutnya, dengan keberadaan sistem pengawasan digital yang semakin ketat dan terintegrasi saat ini, segala bentuk penyelewengan pasti akan mudah terdeteksi.
Selain menyatakan ketegasannya, Prabowo tidak menampik rasa sedih yang dialaminya setiap kali menerima laporan mengenai pejabat yang menyeleweng.
Kesedihan tersebut juga didasari oleh nasib keluarga, terutama anak dan istri dari pejabat bersangkutan, yang harus menanggung dampak sosial akibat kasus korupsi di ujung puncak karier sang kepala keluarga.
Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pemberantasan korupsi, Prabowo memberikan jaminan dan dukungan penuh kepada BPKP untuk menindak setiap penyimpangan tanpa pengecualian.
Ia bahkan mencontohkan bahwa kader dari partainya sendiri, Gerindra, sudah ada yang diproses hukum dan ditahan karena melakukan pelanggaran, sebagai bentuk komitmen nyata dalam memberikan contoh yang baik kepada publik.













