JurnalPatroliNews – NEW YORK — Sejumlah indeks utama di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026) setelah investor melakukan aksi ambil untung pada saham-saham teknologi, di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang memicu kekhawatiran terhadap aset berisiko.
Dikutip dari CNBC International, Sabtu (16/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average turun 537 poin atau 1,07 persen ke level 49.526,17.
Sementara itu, S&P 500 melemah 1,24 persen ke 7.408,50 dan Nasdaq Composite anjlok 1,54 persen menjadi 26.225,14.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham teknologi yang sebelumnya menikmati reli kuat berkat optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).
Saham Intel Corporation turun lebih dari 6 persen, sementara Advanced Micro Devices melemah 5,7 persen.
Saham NVIDIA Corporation turun 4,4 persen, sedangkan Micron Technology anjlok 6,6 persen.
Selain itu, saham Cerebras Systems terkoreksi sekitar 10 persen sehari setelah melonjak 68 persen pada debut perdagangannya di Nasdaq.
Analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, menilai reli saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir sudah terlalu tinggi sehingga rentan terkena aksi ambil untung.
Di tengah pelemahan sektor teknologi, saham Microsoft Corporation justru naik sekitar 3 persen setelah investor miliarder Bill Ackman mengungkap bahwa Pershing Square Capital Management telah membangun posisi investasi di perusahaan tersebut.
Pasar juga tertekan oleh kenaikan tajam imbal hasil obligasi AS. Yield obligasi Treasury tenor 30 tahun naik hingga menembus 5,1 persen, level tertinggi dalam hampir satu tahun.
Kenaikan ini dipicu kekhawatiran inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia, yang berpotensi memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kekecewaan investor juga muncul setelah pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tidak menghasilkan kesepakatan besar baru.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kesepakatan pembelian pesawat Boeing oleh China yang dinilai berada di bawah ekspektasi pasar.
Akibatnya, saham Boeing kembali turun 3,8 persen setelah sehari sebelumnya juga jatuh hampir 5 persen.
Di sisi lain, sektor energi menjadi satu-satunya sektor dalam indeks S&P 500 yang mampu mencatat penguatan, seiring naiknya harga minyak dunia.
Sebaliknya, sektor material, utilitas, dan industri mengalami penurunan paling dalam.
Saham-saham berkapitalisasi kecil juga ikut terpukul. Indeks Russell 2000 turun lebih dari 2 persen, menjadi penurunan harian terbesar sejak November tahun lalu.
Tekanan juga terjadi pada saham ritel dan aset kripto. Saham bursa kripto Coinbase turun sekitar 8 persen, sementara harga Bitcoin kembali merosot di bawah 80.000 dolar AS seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga tinggi.














