Kementerian P2MI Catat 320 Ribu Lowongan Kerja Sektor Formal Luar Negeri Telah Terverifikasi

JurnaPatroliNews – Jakarta – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia atau P2MI mencatat ada sekitar 320 ribu lowongan pekerjaan di luar negeri yang saat ini statusnya telah resmi terverifikasi.

Seluruh data peluang kerja tersebut masuk melalui Sistem Informasi dan Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia atau SISKOP2MI.

Menteri P2MI, Mukhtarudin, menyampaikan hal tersebut usai menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Migran Aman yang digelar di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, pada Senin siang.

Menurutnya, ratusan ribu posisi yang tersedia merupakan pesanan pekerjaan atau job order yang keabsahannya sudah dipastikan oleh perwakilan diplomatik Indonesia di negara-negara tujuan.

Mukhtarudin menegaskan bahwa seluruh lowongan kerja yang tersedia kali ini murni berada di sektor formal. Posisi tersebut mensyaratkan calon tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus (skilled worker), mulai dari klasifikasi keahlian tingkat menengah hingga tenaga profesional dengan keahlian tinggi.

Adapun sejumlah sektor yang paling dominan membutuhkan pasokan tenaga kerja asal Indonesia meliputi pendamping lansia atau caregiver, tenaga perawat, sektor manufaktur, pertanian, perikanan laut, serta industri perhotelan dan pariwisata.

Selain sektor-sektor utama tersebut, ruang bagi pekerja migran Indonesia untuk mengisi posisi strategis di industri elit global juga kian terbuka lebar.

Ia mencontohkan, saat ini sudah ada anak bangsa yang berhasil menembus industri pertahanan kelas dunia di Korean Aerospace Industry untuk merakit pesawat tempur. Di samping itu, banyak pula yang terserap sebagai tenaga engineer di Jepang, hingga berprofesi sebagai pramugari di berbagai maskapai penerbangan internasional terkemuka di kawasan Timur Tengah.

Negara Jepang, lanjut Mukhtarudin, menjadi salah satu pasar yang paling agresif mencari tenaga kerja akibat fenomena penuaan penduduk atau aging population.

Situasi tersebut menyebabkan negara sekutu itu kekurangan populasi usia produktif, sehingga menjadi peluang besar bagi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi untuk mengirimkan tenaga terampilnya.

Dari segi pendapatan, Mukhtarudin memaparkan bahwa upah paling rendah yang akan diterima pekerja migran sektor formal berada di kisaran sepuluh hingga lima belas juta rupiah per bulan. Sementara untuk profesi khusus seperti tenaga perawat medis, pendapatannya bisa berkali-kali lipat lebih tinggi.

Jika ditempatkan di negara seperti Amerika Serikat, penghasilan perawat bahkan mampu menyentuh angka puluhan hingga seratus lima puluh juta rupiah per bulan.

Melalui skema ini, pemerintah berkomitmen kuat untuk mengubah total citra pekerja migran nasional yang selama ini kerap diidentikkan dengan sektor domestik informal berupah rendah.

Langkah peningkatan kapasitas di bidang penguasaan bahasa asing serta pematangan mental dan fisik kini terus digodok agar tenaga kerja yang dikirimkan benar-benar siap bersaing di pasar global.