JurnalPatroliNews – Jakarta -Manajemen Komando Operasi (Koops) TNI Habema melayangkan pernyataan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa insiden ledakan yang terjadi di luar lingkungan Gereja Stasi Santo Paulus Nabuni, Kampung Mbamogo, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Peristiwa ledakan di sekitar rumah ibadah tersebut dilaporkan bergulir pada Minggu (17/5).
Kepala Penerangan (Kapen) Koops TNI Habema, Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, menyayangkan kemunculan berbagai pemberitaan serta embusan narasi di platform media sosial yang secara sepihak langsung menyudutkan dan menuduh aparat TNI/Polri sebagai dalang pelaku peledakan.
Pihak manajemen militer memberikan bantahan keras dan menegaskan bahwa institusi TNI sama sekali bukan pelaku dari aksi pengeboman tersebut.
Hingga saat ini, personel tim gabungan dilaporkan masih terus berada di area lokasi kejadian guna melakukan proses pendalaman materi perkara serta verifikasi faktual di lapangan.
Kendati proses penyelidikan masih berjalan, Koops Habema membeberkan beberapa poin penting dari hasil temuan awal tim ahli di tempat kejadian perkara.
Poin pertama, material granat yang berhasil ditemukan di titik lokasi ledakan memiliki spesifikasi teknis dan karakteristik yang dipastikan tidak sesuai dengan jenis granat standar yang umum digunakan oleh jajaran prajurit TNI.
Poin kedua, ditegaskan bahwa TNI tidak pernah mengoperasikan perangkat drone bersenjata untuk melancarkan serangan terhadap warga sipil, terlebih di kawasan zona rumah ibadah.
Poin ketiga, dalam setiap pelaksanaan operasi, TNI diklaim selalu mengedepankan pola pendekatan keamanan yang humanis serta berkomitmen penuh melindungi hajat hidup masyarakat Papua.
Imbauan Stop Hoaks dan Upaya Pengamanan Wilayah Lebih lanjut, Kapen Koops Habema melemparkan imbauan terbuka kepada seluruh lapisan masyarakat maupun media untuk tidak ikut memproduksi serta menyebarluaskan informasi simpang siur yang belum terverifikasi kebenarannya.
Hal tersebut dinilai sangat berbahaya karena berpotensi memicu provokasi massa dan memperkeruh stabilitas situasi keamanan yang mulai kondusif di wilayah Intan Jaya.
Pihak TNI mengindikasikan bahwa insiden ledakan ini sangat mungkin sengaja dirancang sebagai aksi provokasi oleh kelompok tertentu yang memiliki agenda terselubung untuk memecah belah kemitraan harmonis antara TNI dengan warga asli Papua.
Guna mengantisipasi dan mencegah terjadinya aksi teror serupa di kemudian hari, personel Satgas Koops Habema dilaporkan kian mengintensifkan aktivitas patroli zona dan memperketat sistem pengamanan di wilayah Distrik Agisiga.
Di samping melakukan tindakan preventif, aparat juga telah membangun jalur koordinasi intensif dengan jajaran pengurus gereja serta tokoh masyarakat setempat.
Sinergi ini dibangun untuk mempermudah penyaluran berbagai skema bantuan kemanusiaan yang sekiranya diperlukan oleh para warga yang menjadi korban terdampak insiden ledakan tersebut.
Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna memungkas keterangannya dengan berjanji bahwa pihak Koops TNI Habema akan terus berkomitmen memberikan pembaharuan informasi atau update perkembangan penanganan kasus ini kepada publik secara berkala.
Seluruh informasi yang akan disajikan ke depan dipastikan bakal dikemas secara transparan dan merujuk utuh pada fakta-fakta hukum yang ditemukan oleh tim investigasi di lapangan.














