Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Ebola, Masyarakat Diminta Jaga Pola Hidup Bersih


JurnalPatroliNews – JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus Ebola menyusul penetapan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan global oleh World Health Organization (WHO).

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, salah satunya dengan menghindari konsumsi daging mentah maupun hewan liar yang berisiko menjadi sumber penularan virus.

Mengutip laman resmi Kemenkes RI, pemerintah juga memperkuat sistem deteksi dini melalui peningkatan kapasitas laboratorium, pelatihan tenaga kesehatan, serta koordinasi lintas sektor bersama WHO dan berbagai pihak terkait guna memastikan kesiapsiagaan nasional tetap optimal.

Masyarakat turut diimbau konsisten menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam aktivitas sehari-hari.

Langkah sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, memakai masker saat sakit atau berada di tempat umum, serta menerapkan etika batuk dan bersin dinilai efektif menekan risiko penularan berbagai penyakit infeksi, termasuk Ebola.

Selain itu, masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan orang sakit, hewan liar, maupun benda yang diduga terkontaminasi cairan tubuh penderita. Pasalnya, virus Ebola dapat menular melalui darah, cairan tubuh, serta permukaan yang terpapar virus.

WHO menyebut wabah kali ini dipicu oleh Bundibugyo ebolavirus, salah satu strain Ebola yang tergolong langka. Hingga kini, strain tersebut belum memiliki vaksin maupun terapi spesifik yang disetujui secara luas.

Kondisi itu membuat langkah pencegahan menjadi faktor utama dalam mengendalikan penyebaran penyakit.

Bundibugyo ebolavirus merupakan salah satu strain penyebab Ebola Virus Disease (EVD), yakni penyakit infeksi berat yang dapat memicu gejala seperti demam tinggi, kelemahan ekstrem, muntah, diare, hingga perdarahan internal yang berpotensi fatal.

Tingkat kematian akibat penyakit tersebut tergolong tinggi, terutama apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Virus itu pertama kali diidentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, saat wabah terjadi pada 2007 hingga 2008. Sejak saat itu, strain tersebut hanya muncul dalam beberapa kejadian luar biasa dengan jumlah kasus terbatas.

Namun pada 2026, strain Bundibugyo kembali memicu lonjakan kasus di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sehingga meningkatkan kewaspadaan global.

Seiring meningkatnya mobilitas penduduk antarnegara, pemerintah Indonesia kini memperketat pengawasan di pintu masuk internasional seperti bandara dan pelabuhan.

Masyarakat yang memiliki riwayat perjalanan dari wilayah terdampak juga diminta segera melapor ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Ebola.

Pemerintah menilai kolaborasi antara negara dan masyarakat menjadi kunci penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya virus Ebola di Indonesia.