Dolar AS Melemah, Indeks DXY Turun ke Level 99,10


JurnalPatroliNews – NEW YORK — Kurs dolar Amerika Serikat melemah dari level tertinggi enam pekan pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026) di pasar uang New York seiring meningkatnya optimisme tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Sentimen tersebut menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury sekaligus mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Pelemahan mata uang Negeri Paman Sam terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir, meski tetap memperingatkan adanya kemungkinan serangan lanjutan apabila kesepakatan gagal tercapai.

Pernyataan itu memicu aksi ambil untung di pasar valuta asing setelah sebelumnya dolar AS menguat tajam.

Akibatnya, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) turun 0,21 persen ke level 99,10.

Pelemahan greenback turut mendorong penguatan sejumlah mata uang utama dunia. Mata uang euro naik ke level 1,1628 dolar AS, sementara poundsterling menguat menjadi 1,3442 dolar AS.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar Australia juga melonjak 0,63 persen ke posisi 0,5871 dolar AS.

Meski terkoreksi dalam jangka pendek, dolar AS masih ditopang prospek kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve System atau The Fed.

Risalah rapat Federal Reserve menunjukkan sinyal hawkish, di mana pelaku pasar mulai memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga pada Januari mendatang akibat meningkatnya risiko inflasi yang dipicu ketegangan geopolitik global.

Sementara itu di Asia, yen Jepang turut menguat tipis ke level 158,82 per dolar AS dan menjauh dari area kritis 160 yang selama ini dipandang berpotensi memicu intervensi pemerintah Jepang.

Pelaku pasar disebut masih berhati-hati terhadap kemungkinan langkah intervensi dari Bank of Japan di pasar valuta asing.