CDC Afrika Peringatkan 10 Negara Berisiko Terdampak Wabah Ebola


JurnalPatroliNews – ADDIS ABABA — Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika atau Africa CDC mengeluarkan peringatan serius terkait potensi meluasnya wabah Ebola di kawasan Afrika. Selain Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda yang telah melaporkan kasus infeksi, sedikitnya 10 negara kini masuk kategori berisiko tinggi terdampak penyebaran virus mematikan tersebut.

Direktur Jenderal CDC Afrika, Jean Kaseya, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan wabah yang menunjukkan kecenderungan penyebaran lintas negara.

“Ada 10 negara yang berisiko,” kata Kaseya, Minggu, 24 Mei 2026.

Sepuluh negara yang masuk daftar kewaspadaan tersebut meliputi Angola, Burundi, Central African Republic, Republic of the Congo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, South Sudan, Tanzania, dan Zambia.

Menurut CDC Afrika, hampir seluruh negara tersebut berbatasan langsung dengan Democratic Republic of the Congo atau Uganda yang sejauh ini menjadi pusat penyebaran kasus Ebola.

Kondisi geografis serta tingginya mobilitas lintas batas dinilai meningkatkan risiko penularan antarnegara apabila langkah mitigasi tidak segera diperkuat.

Sebagai respons atas ancaman tersebut, CDC Afrika bersama World Health Organization meluncurkan seruan pendanaan lebih dari 314 juta dolar AS guna mendukung berbagai intervensi darurat.

Dana tersebut akan digunakan untuk pengobatan pasien, penguatan sistem surveilans, pencegahan penyebaran penyakit, hingga peningkatan kesiapsiagaan di negara-negara yang masuk kategori risiko tinggi.

Sebagian besar anggaran akan difokuskan bagi DRC dan Uganda yang saat ini menghadapi kasus aktif Ebola. Sementara 10 negara lain yang berpotensi terdampak akan memperoleh dukungan sekitar 54 juta dolar AS guna memperkuat kapasitas respons nasional dan koordinasi regional.

CDC Afrika menegaskan sejumlah langkah prioritas yang akan dijalankan, mulai dari pembentukan sistem manajemen insiden nasional, penguatan koordinasi lintas batas, percepatan penelitian vaksin untuk strain Bundibugyo, pengerahan tim tambahan, hingga penempatan stok logistik darurat sebelum penularan meluas.

Peringatan tersebut muncul di tengah lonjakan kasus Ebola di DRC sejak wabah diumumkan pada 15 Mei 2026 di Provinsi Ituri. Dalam perkembangannya, penyebaran virus dilaporkan telah meluas ke Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan.

Kondisi itu memicu kekhawatiran bahwa epidemi Ebola dapat berkembang menjadi ancaman kesehatan regional apabila tidak segera dikendalikan secara cepat dan terkoordinasi.