JurnalPatroliNews – JAKARTA — Nilai tukar rupiah diproyeksikan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (29/5/2026), seiring tekanan domestik dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah berpotensi terus melemah setelah sempat menyentuh posisi Rp17.887 per dolar AS pada perdagangan Kamis (28/5/2026).
“Ada kemungkinan hari besok pembukaan pasar di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp18.000. Kemungkinan besar,” kata Ibrahim dalam analisis pasar, Kamis.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor internal dan eksternal yang menekan sentimen pasar terhadap aset domestik.
Dari sisi domestik, ia menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Selain itu, pembayaran dividen perusahaan dan kecenderungan masyarakat memindahkan tabungan ke valuta asing juga dinilai memperbesar tekanan terhadap rupiah.
Ia juga menyinggung besarnya kewajiban pembayaran bunga utang jatuh tempo yang disebut mencapai Rp600 triliun.
“Walaupun banyak pejabat termasuk Menteri Keuangan mengatakan Rupiah akan menguat, tetapi rupanya Rupiah akan melemah. Jadi bahasa menguat ini saya tidak tahu alasannya seperti apa bagi mereka, tetapi apakah itu hanya untuk hiburan atau tidak,” ujarnya.
Ibrahim turut mengkritik pengelolaan sejumlah program pemerintah seperti MBG dan Koperasi Merah Putih yang menurutnya memicu kekhawatiran investor asing terhadap kondisi fiskal dan tata kelola ekonomi nasional.
“Pasar sekarang tertuju terhadap Koperasi Merah Putih yang manajemennya amburadul, yang kemungkinan besar merugikan negara sebesar total Rp45 triliun,” kata Ibrahim.
Menurut dia, kondisi tersebut mendorong arus modal asing keluar dari pasar domestik, terutama selama periode libur panjang.
Ia menilai langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia sejauh ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan dari faktor internal maupun eksternal.
Dari sisi global, Ibrahim mengatakan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur turut memperburuk sentimen pasar keuangan.
Ia menyoroti memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta perang Rusia-Ukraina yang dinilai mendorong lonjakan harga minyak dunia.
“Ketegangan di Timur Tengah maupun Eropa membuat harga minyak kembali naik di atas 92 dolar AS bahkan sekarang di 96 dolar AS,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak dan biaya logistik global tersebut dinilai berpotensi memicu inflasi lebih tinggi, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga secara global.
Pada perdagangan sore Kamis, Ibrahim memprediksi rupiah masih akan tertekan sekitar 100 poin menuju level Rp17.900 per dolar AS.














