Sentimen Perdamaian AS-Iran Tekan Dolar AS, Indeks DXY Bertahan di Level 98,92


JurnalPatroliNews – NEW YORK — Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026) waktu setempat. Pelemahan tersebut membuat mata uang Negeri Paman Sam bersiap mencatat penurunan mingguan untuk kedua kalinya secara beruntun.

Tekanan terhadap dolar dipicu oleh meningkatnya optimisme pasar terhadap perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, serta pelonggaran pembatasan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi global.

Sentimen tersebut mengurangi daya tarik dolar AS sebagai aset safe haven yang sebelumnya menguat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Akibatnya, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, bergerak relatif datar di level 98,92 namun tetap berada dalam tren pelemahan mingguan.

Di sisi lain, data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi AS meningkat pada April, terutama dipicu kenaikan harga energi. Meski demikian, data tersebut belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi dolar.

Pelaku pasar masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun depan. Namun, ekspektasi tersebut belum diikuti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cukup kuat untuk menopang penguatan dolar.

Pelemahan dolar kemudian dimanfaatkan sejumlah mata uang utama dunia untuk menguat.

Mata uang tunggal Eropa, Euro, naik ke level 1,16620 dolar AS. Sementara Pound Sterling menguat ke posisi 1,3466 dolar AS.

Kinerja lebih impresif ditunjukkan dolar Selandia Baru yang melonjak hampir 0,85 persen terhadap dolar AS. Adapun mata uang Jepang, Yen Jepang, relatif stabil dan diperdagangkan di kisaran 159,27 yen per dolar AS.

Analis menilai arah pergerakan dolar dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi perkembangan hubungan AS-Iran, prospek kebijakan moneter The Fed, serta dinamika pasar obligasi global yang menjadi indikator utama arus modal internasional.