Indeks Dolar Tergelincir, Pelaku Pasar Pantau Arah Kebijakan Trump

JurnalPatroliNews – Jakarta – Nilai tukar dolar AS di pasar uang New York ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 22 Januari 2026 waktu setempat atau Jumat pagi WIB.

Pelemahan terjadi setelah Presiden Donald Trump menarik ancaman tarif terhadap Eropa sekaligus menegaskan tidak akan mengejar ambisi atas Greenland melalui jalur militer. Meredanya tensi geopolitik itu membuat indeks dolar (DXY) turun 0,41% ke level 98,36.

Pergerakan dolar juga tampak melemah di hadapan sejumlah mata uang utama. Euro menguat tipis ke sekitar 1,1750 dolar AS per euro (naik 0,03%), sedangkan poundsterling bergerak naik ke kisaran 1,3496 dolar AS per pound (menguat 0,04%).

Di sisi lain, yen Jepang justru melemah terhadap dolar. Pasangan USD/JPY berada di level 158,52 yen per dolar AS, naik 0,07%, menunjukkan dolar masih lebih kuat dibanding yen pada sesi tersebut.

Untuk kawasan Asia, rupiah tercatat melemah. Nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp16.895,50 per dolar AS, turun 40 poin atau setara pelemahan 0,24%. Sementara yuan China cenderung stabil dan menguat tipis sekitar 0,06% ke posisi 6,9685 per dolar AS.

Dari sisi data ekonomi, Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan belanja konsumen—komponen yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS—naik 0,5% pada November, sama seperti kenaikan pada Oktober.

Selain itu, dolar Australia melonjak ke titik tertinggi dalam sekitar 15 bulan, didorong rilis data yang menunjukkan penurunan tingkat pengangguran yang terjadi di luar perkiraan pasar.