Sebut Kucing Pakai Nama Presiden, Mantan Ketua BEM UGM Dikritik Keras Tuan Guru Batak

JurnalPatroliNews – Medan – Tuan Guru Batak, Syekh Ahmad Sabban el-Rahmaniy Rajagukguk, memberikan tanggapan keras terkait dinamika ruang digital yang dinilai mencederai nilai-nilai kesopanan bangsa.

Ia menilai pernyataan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang menyebut seekor kucing dengan nama yang diduga menghina Presiden Prabowo Subianto merupakan tindakan tidak beretika.

Langkah komunikasi tersebut dianggap sama sekali tidak mencerminkan adab serta kebudayaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia.

Syekh Ahmad Sabban menegaskan hak kebebasan mengemukakan pendapat memang dijamin secara konstitusional dalam sistem demokrasi nasional.

Namun demikian, implementasi kebebasan tersebut harus tetap disampaikan dengan menjunjung tinggi pilar moralitas, kesantunan, serta nilai-nilai kebangsaan.

“Saya sebagai anak bangsa, sebagai orang kampung yang sangat mencintai negeri ini, sungguh sangat prihatin menyaksikan apa yang telah disampaikan oleh ananda Tiyo Ardianto,” ujar Tuan Guru Batak dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/6/2026).

Tokoh ulama karismatik ini kembali mengingatkan bahwa Indonesia merupakan entitas bangsa yang senantiasa menempatkan nilai agama pada posisi tertinggi.

Fondasi Pancasila dan budaya ketimuran juga mewajibkan setiap individu untuk mengedepankan tata krama yang baik dalam menyampaikan sebuah pandangan politik.

“Sebagai bangsa yang beragama, yang memiliki Pancasila, dan bangsa yang berbudaya, tentu kita sangat prihatin and mengecam apa yang disampaikan oleh ananda Tiyo Ardianto,” lanjutnya.

Kritik Konstruktif Tanpa Cacian dan Dorongan Edukasi Moralitas

Tuan Guru Batak memandang bahwa munculnya perbedaan pandangan atau sikap kritis terhadap jalannya pemerintahan merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan bernegara.

Akan tetapi, saluran kritik tersebut mutlak tidak boleh diwujudkan dalam bentuk penghinaan verbal, cacian, maupun ujaran yang sengaja merendahkan martabat orang lain.

“Silakan bersuara, akan tetapi jangan sampai melakukan cacian, makian, dan cercaan. Kita tidak boleh saling menghujat karena kita bangsa yang beradab,” tegas Tuan Guru Batak secara lugas.

Dirinya juga melemparkan ajakan terbuka kepada seluruh elemen masyarakat dan pemangku kebijakan untuk tidak bosan menanamkan nilai etika.

Edukasi karakter dan penanaman moralitas ketimuran dinilai sangat krusial diberikan kepada generasi muda agar iklim demokrasi tetap berjalan secara sehat dan bermartabat.

“Kita sama-sama memberikan edukasi dan mengajarkan nilai-nilai etika serta moralitas kepada seluruh anak bangsa agar Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang besar dan beradab,” paparnya berharap.

Seruan untuk Pemerintah Terkait Kelangkaan BBM dan Kesejahteraan Rakyat

Di sisi lain, di luar sorotan etika tersebut, Tuan Guru Batak juga memberikan pengingat konstruktif bagi jajaran internal pemerintah pusat.

Ia meminta agar kabinet pemerintahan saat ini tetap menjaga fokus penuh untuk menyelesaikan berbagai persoalan riil yang tengah dihadapi masyarakat bawah.

Fokus penanganan utama tersebut di antaranya meliputi stabilitas di bidang ekonomi makro serta akselerasi program kesejahteraan rakyat.

“Kami juga mendoakan Bapak Presiden Prabowo Subianto dan seluruh jajaran pemerintah, karena bangsa kita saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan,” katanya tulus.

Secara spesifik, ia menyoroti fenomena sosial lapangan yang belakangan dirasakan langsung oleh warga, seperti munculnya antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU.

Kendala operasional tersebut diduga dipicu oleh adanya indikasi kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) serta tren kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok.

Oleh karena itu, besar harapannya agar pihak istana terus melahirkan formulasi kebijakan taktis yang berpihak nyata kepada hajat hidup orang banyak.

Eksekusi regulasi tersebut ditekankan harus dapat langsung menyentuh serta meringankan beban dari kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak tekanan ekonomi.

“Kami mohon kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto agar benar-benar memberikan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, terutama masyarakat yang lemah dan susah,” pungkas Tuan Guru Batak mengakhiri pernyatannya.

Komentar